Nafi Besari

Semangat Pelari dari Angkatan Tertua

Kalau ada niat dan kemauan semua pasti bisa dilakukan. Bukan karena orangnya hebat, tetapi karena ada kemauan.

Jumat, 18 Juni 2021
Jumat, 18 Juni 2021
nafi2.jpg

USIA lanjut selalu identik dengan masa tak aktif dan tak produktif. Namun, tafsiran makna tersebut tak berlaku jika mengenal sosok Nafi Besari. Bagi Nafi, yang sekarang berusia 76 tahun, usia hanyalah deretan angka. Soal semangat dan kebugaran, jangan ditanya, Nafi masih layak disandingkan dengan orang-orang yang umurnya jauh lebih muda. Buktinya, di usianya tersebut Nafi masih bisa menikmati hidup dengan rutin berolah raga, bersepeda dan berlari. Bahkan, ia masih sanggup ikut BNI-ITB Ultra Marathon.

Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung angkatan 1963 ini mengatakan, telah tiga kali berturut-turut berpartisipasi menjadi peserta BNI-ITB Ultra Marathon. “Pada dasarnya saya sangat senang ikut BNI-ITB Ultra Marathon. Pada 2017 saya ikut yang 20 kilometer. Pada 2018 berlari dengan jarak 11 kilometer. Sementara, pada 2019 ikut lagi yang 20 kilometer. Pokoknya, selama saya bisa berlari, saya akan ikut terus,” kata peserta dari angkatan tertua ini bercerita.

Nafi mengatakan sebenarnya ada satu temannya lagi yang seangkatan dari jurusan arsitek ikut juga BNI-ITB Ultra Marathon. Malah, ada dua orang lagi yang usianya dua tahun di atasnya, tetapi mereka dari angkatan 1965.

Bagi Nafi, BNI-ITB Ultra Marathon merupakan hasil kerja luar biasa. Ia benar-benar menghargai jerih payah panitia yang telah berhasil menyelenggarakan acara ini secara rutin. Bukan hanya ajang lomba, lebih dari itu, menurut Nafi, BNI-ITB Ultra Marathon merupakan ajang silaturahmi dengan sesama alumni dari berbagai angkatan dan jurusan.

“Betul betul acara yang bagus. Kita juga berlarinya dengan gembira karena hampir semua alumni ikut. Saya senang bisa ikut bergabung dengan kebanyakan peserta yang jauh lebih muda dari saya,” ujar Nafi Besari yang merupakan adik dari almarhumah Ibu Hasri Ainun Besari (Ibu Ainun Habibie) ini.

Banyak hal menarik dari pengalamannya mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon. Namun, yang tidak bisa dilupakannya adalah kejadian ketika segala persiapan yang telah dilakukan tim tak berjalan dengan mulus. Saat itu, tim sudah membuat jadwal siapa saja pelari-pelari yang akan turun, lengkap dengan jam-jamnya. Nafi berangkat bersama teman-teman lain seusai salat Subuh dari Masjid Salman. Tetapi, karena sesuatu hal semua jadi molor. Hasilnya, jadwal pun jadi enggak keruan.

“Pada 2019 itu saya jadwalnya berlari pukul 11.00 siang, tetapi saya jadinya baru start pukul setengah 3 sore. Kita juga menunggu cukup lama, tetapi karena di sana bertemu banyak teman, jadi semuanya terasa menyenangkan saja,” katanya.

Nafi pun mengatakan, setelah beres mengikuti lomba BNI-ITB Ultra Marathon, esok harinya, pada hari Minggu, ia pun masih sanggup turun dalam Fun Run sejauh 5 kilometer yang mengambil start dari kantor PLN Cikapundung menuju ke kampus ITB.

“Senang sekali banyak bertemu dengan teman dari segala angkatan dan jurusan dan juga dengan segala kelakuan mereka, seperti melakukan foto-foto dan obrolan-obrolan lainnya,” kata ayah dua orang anak yang semuanya laki-laki ini.

Saat ditanya tips tetap bugar dan masih sanggup berlari jauh di usia yang tak lagi muda, Nafi Besari mengatakan kuncinya cuma satu, yaitu kemauan. Menurutnya, kalau ada niat dan kemauan semua pasti bisa dilakukan. Bukan karena orangnya hebat, tetapi karena ada kemauan.

“Dimulai dengan jalan kaki, mulai agak cepat dan agak jauh lalu mulai berlari. Satu lagi yang sangat penting, yaitu disiplin. Dengan disiplin dan kemauan yang besar, pasti bisa,” ujar Nafi.

Nafi pun berharap agar wabah COVID-19 segera berakhir agar BNI-ITB Ultra Marathon bisa kembali digelar lagi secara fisik. “Saya yakin yang ikut akan semakin banyak. Mudah-mudahan panitianya terus semangat untuk bisa menyelenggarakannya lagi setiap tahun. Dan itu saya yakin bisa karena selama ini mereka telah mampu menyelenggarakannya dengan sangat baik,” ujar Nafi.

Saat ini selain berlari, Nafi pun masih aktif bersepeda. Terakhir, ia mengaku masih bisa ikut lari maraton dan menyelesaikan lomba berjarak 42,195 kilometer. “Ikut Maraton di Bandung dan di Borobudur Jawa Tengah. Kalau bersepeda dan berlari suka ditemani anak yang bungsu karena dia juga suka berlari dan bersepeda,” ujarnya.

Nafi pun bercerita saat kuliah di Teknik Mesin ITB dulu, Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soekarno. Ia pun cukup aktif di kegiatan kampus. “Pokoknya saya telah mengalami semua presiden yang ada di Indonesia, dari mulai Presiden Soekarno sampai Jokowi,” katanya sembari tertawa.***

Share
Comments