Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring, M.Eng

“Sekarang mah, Lari 10 km Udah Biasa”

Surprise, kami bisa finis di urutan ke-11. Ini menurut saya luar biasa mengingat komposisi tim kami yang beragam usia.

Selasa, 2 Maret 2021
Selasa, 2 Maret 2021
whatsapp-image-2021-03-08-at-152106.jpeg

MESKI baru berpartisipasi satu kali pada 2019, bagi Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring, M.Eng, BNI-ITB Ultra Marathon meninggalkan kesan unik tersendiri. Prof. Jaka yang kala itu menjadi Dekan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB mengakui, antusiasme alumni STEI dari berbagai angkatanlah yang membuatnya tergerak untuk ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2019. Ketika itu, ia berpikir bahwa BNI-ITB Ultra Marathon bisa menjadi ajang yang tepat untuk mempromosikan fakultas yang dipimpinnya.

”Bukan hanya untuk sehat, tetapi menjadi ajang yang bagus untuk program promosi fakultas. Di komunitas STEI juga banyak yang senang olah raga lari dari berbagai angkatan dan lain-lain. Maka, dibentuklah tim untuk ikut BNI-ITB Ultra Marathon. Semua pada ikut, masa dekannya enggak. Jadilah saya kepaksa ikut,” ujar Prof. Jaka tertawa ketika ditanya awal kerterlibatannya dengan BNI-ITB Ultra Marathon.

Wakil Rektor ITB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ini mengenang, pada BNI-ITB Ultra Marathon 2019, ia tergabung dalam tim STEI untuk kategori R18. Karena sebagai dekan, ia dipilih menjadi pelari terakhir (finisher) dalam tim, berlari dari kawasan Cibabat, Cimahi sampai Kampus ITB. Tak disangka, hasil yang diraih timnya cukup membanggakan.

“Saya finis kira-kira pukul 12 malam. Surprise, kami bisa finis di urutan ke-11. Ini menurut saya luar biasa mengingat komposisi tim kami yang beragam usia. Di tim kami profesornya ada 5, wanita 2 orang, dikombinasikan dengan dosen yang masih muda. Bayangkan, ada yang umur 60 tahun, 58 tahun, sebagian sudah pada tua,” katanya.

Strategi tim yang dijalankan selama lomba, menurut Prof. Jaka cukup mumpuni. Ia mengatakan, kunci sukses saat itu ada pada pengaturan penempatan para pelari agar bisa maksimal melahap rute yang disediakan. “Yang sudah tua ditempatkan di rute-rute tertentu, yang perempuan khusus untuk jalur yang landai. Pokoknya, semua diatur,” ujarnya. Bukan hanya itu, selama di perjalananan pun semua aman terkendali. Selain pengamanan dari panitia, tim support dari fakultas pun lengkap dikerahkan.

Ada cerita lucu yang tak mungkin Prof. Jaka lupakan saat mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon. Momen itu terjadi ketika ia memasuki area menjelang finis di Jalan Ganesha. Melihat lomba hampir usai, Prof. Jaka melakukan sprint. Tim suporter di dekat garis finis tampak sangat antusias dan meriah siap menyambutnya.

Mereka riuh rendah membunyikan segala tetabuhan seperti tambur, terompet, dan lainnya. “Pas saya lewat di depan mereka, tiba-tiba mereka bilang, ‘Ehhh bukan-bukan…’ Ternyata mereka bukan hendak menyambut saya. Saya disangka temannya oleh mereka, hahaha. Saya ingat mungkin teman-teman mereka itu dari tim lain yang saya salip saat di Pasupati,” kata Prof. Jaka terbahak-bahak.

Menurut Prof. Jaka, sukses yang diraih timnya dalam menyelesaikan BNI-ITB Ultra Marathon merupakan buah manis latihan berat yang mereka jalani. Ia mengatakan, karena mengusung misi untuk mempromosikan fakultas, segala persiapan pun mesti dijalani dengan sebaik-baiknya, termasuk latihan berlari. Tim dari STEI yang terdiri atas 30 orang digembleng selama kurun waktu dua bulan.

“Yang berat itu waktu latihan. Tak main-main, pelatih kami adalah asisten pelatih SEA Games. Walaupun porsi disesuaikan sesuai usia, tetap berat. Hari pertama latihan diikuti hampir 50 orang. Dosen yang sudah sepuh, hari berikutnya enggak datang, pada pegal-pegal semua, hahaha. Yang rutin hanya tinggal 30 orang. Walau capek, suasananya asyik banget. Ada yang benar-benar dari nol, tak pernah lari sama sekali, ada juga suka lari tapi enggak rutin. Pokoknya ramai,” kata Prof. Jaka.

Olah raga lari tak asing bagi Prof. Jaka. Dalam seminggu, ia terbiasa melakukan jogging sejauh 20-30 km yang dilakukannya selama tiga kali. Namun, ia mengatakan tak sengaja mengakrabi dunia lari karena sebelumnya ia lebih rutin bersepeda. Awalnya, dulu ia sering datang kepagian ke kampus sehabis mengantar anaknya yang sekolah SMA di dekat kampus ITB.

“Anak masuk sekolah pukul 6.30. Jadi, pas ke kampus itu masih kosong, belum ada orang. Buat mengisi waktu sebelum berkegiatan, saya memilih berlari. Karena sudah rutin, kalau sekarang mah lari 10 km udah biasa. Batasannya sampai half marathon. Untuk half saya bisa 2 jam 40 menit. Lebih dari itu, enggak mau,” ujar ayah dua anak ini kembali tertawa.

Walau tak sempat mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon 2020 yang dilakukan secara virtual, Prof. Jaka sempat berpartisipasi dalam IAE Virtual Run 100 km. Pada gelaran yang diinisiasi Ikatan Alumni Elektro ITB ini, ia menyelesaikan 100 km selama kurang lebih lima belas hari.

Penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon menurut Prof. Jaka manfaatnya sangat besar, terutama untuk tingkat fakultas, sejak ia masih menjadi dekan. Tim IAE dan IAIF ITB menggalang dana dari kegiatan BNI-ITB Ultra Marathon untuk beasiswa. “Direct impact-nya di level fakultas saja sudah seperti itu. Harapan saya karena saya sebagai wakil rektor, direct impact seperti di fakultas juga menular di level ITB secara keseluruhan,” ujar Prof. Jaka yang mengaku biasa berlari solo dan jarang ramai-ramai dengan orang lain ini.

Ia memberi urun saran agar BNI-ITB Ultra Marathon bisa lebih dioptimalkan pemanfaatannya. Ia sering menyampaikan bahwa BNI-ITB Ultra Marathon sebenarnya bisa menjadi lahan iklan yang paling efektif. “Bayangkan kalau misalnya tidak ada COVID dan acara ini dilaksanakan seperti biasa. Orang berlari dengan segala kondisi sejauh 200 km dari Jakarta ke Bandung. Di kaus belakangnya terpampang ITB dan BNI. Ini bisa jadi tempat orang memasang iklan yang iklannya dilihat orang-orang berdaya beli minimal dari segmen menengah. Itu efektif banget. Dalam konteks seperti itu banyak hal yang bisa kita manfaatkan. Diolah dan lebih diberdayakan, bagus itu. Diolah memakai medsos zaman sekarang ini bisa menjadi luar biasa. Tinggal nitipin iklan,” ujar pria yang menyelesaikan studi S-2 dan S-3 di Waseda University, Tokyo, Jepang ini.***

Share
Comments