Nova Cholil

Penyintas Ultra Marathon, Penyintas Kanker

Pada 2019, saya support dari pagi sampai tengah malam. Padahal, semenjak sakit belum pernah beraktivitas lama seperti itu lagi, tapi ternyata bisa.

Minggu, 21 Maret 2021
Minggu, 21 Maret 2021
nova-cholil.jpeg

DENGAN tekad dan usaha kuat, segala harapan bisa berubah menjadi kenyataan. Hal ini sangat dirasakan oleh Nova Cholil. Setelah melewati hadangan berat dalam kehidupannya karena mengidap kanker payudara, alumni Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung angkatan ’88 ini bangkit. Ia melibas segala keterbatasan dengan mengikuti ajang yang digelar almamaternya, BNI-ITB Ultra Marathon.

Hal ini membuktikan bahwa hidup ini jangan mudah menyerah. Harus ada tekad bulat untuk berbuat sesuatu agar yang tadinya dirasa tak mungkin menjadi mungkin. Dan, perempuan berusia 52 tahun ini menemukan hal tersebut setelah mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon 2020 yang digelar secara virtual.

Semua berawal dari motivasi sahabat seangkatannya di TI ITB, Silvi yang telah men-support sejak ia sakit, untuk berpartisipasi dalam acara tahunan ini. Nova mengiyakan dan bersedia menerima tantangan. Walau sang suami awalnya waswas mengingat kondisi Nova dan pandemi Covid-19 yang mulai mewabah, Nova akhirnya diizinkan. Nova memberanikan diri menjadi bagian dari tim TI angkatan ’88 untuk menyelesaikan lomba sejauh 10 kilometer walau saat itu sama sekali tak punya persiapan khusus.

Surprise, walau dengan berjalan kaki, Nova yang ditemani sahabatnya Silvi, bisa menyelesaikannya dalam raihan waktu 2 jam 10 menit. Nova mengakui, hal ini seolah menjadi titik balik bagi kehidupannya. Untuk pertama kali, ia bisa berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Hal positif lain yang dirasakannya dari kegiatan ini adalah silaturahmi dengan alumni lain tetap terjalin. Lewat WA grup lari angkatan ‘88, mereka sering berkomunikasi dan saling memotivasi.

“Saya sangat senang ikut acara ini. Biasanya paling banter jalan kaki itu 2-3 kilometer. BNI-ITB Ultra Marathon benar-benar telah mengubah hidup saya. Yang tadinya berpikir tidak bisa melakukannya, ternyata bisa. Selain badan menjadi enak, hidup berasa lebih happy,” ujar Nova.

Selepas mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon, Nova mengaku bahwa tingkat kepercayaan dirinya juga meningkat drastis. Kini, beserta sang suami, ia rutin melakukan olah raga jalan pagi sejauh 5-6 kilometer dua kali dalam minggu, tergantung kondisi. “Tadinya agak takut kenapa-kenapa juga kalau olah raga terlalu lama, tapi ternyata bisa. Malah sekarang kondisi saya hampir sama dengan seperti sebelum sakit. Kalau pas ikut BNI-ITB Ultra Marathon jalan kaki 10 kilometer terasa agak berat, sekarang jadi lebih enteng,” ujar perempuan yang juga menyukai olah raga berenang ini.

Padahal, dulu ia tak pernah membayangkan bisa lagi melakukan hal seperti ini. Pada akhir 2015, ia divonis mengidap kanker payudara. Awalnya cuma benjolan kecil, tetapi dokter tetap memutuskannya untuk menjalani operasi. “Dan benar saja ternyata kanker saya sudah ganas. Saya menerima dan pasrah dengan semua keputusan ini. Suami saya yang malah heboh, sangat mengkhawatirkan kondisi saya,” ujar Nova tertawa.

Selepas operasi, hasil tes patologi dan imunohistokimia menunjukkan bahwa ia mesti menjalani kemoterapi. Saat itulah ujian berat dalam kehidupan Nova dimulai. Ia harus menjalani enam kali sesi kemoterapi per tiga minggu.

Efek kemoterapi membuatnya tak berdaya. “Benar-benar menguras tenaga dan kondisi badan. Pokoknya enggak bisa dibilang lagi kondisinya seperti apa. Tiga hari setelah kemo ke-1, 2, 3, saya pingsan di kamar mandi, di kamar tidur, di tangga. Setelah selesai menjalani 6 kali kemo, kaki terasa sangat berat kalau diinjakkan, terutama saat bangun pagi. Di telapak kaki terasa seperti ada besi,” katanya. Makanya, ia sangat bersyukur dengan kondisinya sekarang ini. Dengan rutin menjalankan olah raga berjalan kaki, kebugarannya tetap terjaga.

Tak berhenti di sana, ia pun menularkan pengalamannya sebagai penyintas kanker dengan membantu pasien lain. Nova bergabung menjadi volunter di Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di bawah kepemimpinan Linda Agum Gumelar. Sebelum pandemi, bersama 10 temannya Nova rutin berkunjung ke RS Kanker Dharmais setiap hari Rabu.

“Kami memotivasi para pasien, terutama terkait pemulihan mental. Kami membuat WA grup, berbagi cerita serta saling memotivasi. Di tengah itu, saya sering menyelipkan ajakan kepada mereka untuk mulai berolah raga sesuai dengan kemampuan masing-masing karena manfaatnya telah dirasakan oleh saya,” ujar ibu dua anak kelas XII SMA dan kelas VIII SMP ini.

Keterlibatan Nova dengan Ultra Marathon telah dimulai sejak 2018 dan 2019 walau hanya sebatas menjadi tim pendukung bagi teman angkatannya yang menjadi peserta. Bergantian menyopiri mobil bersama temannya, ia mengawal dan memberikan perbekalan bagi rekannya. “Pada BNI-ITB Ultra Marathon 2019, saya mengawal peserta dari pagi sampai tengah malam, mulai dari Jakarta menembus Puncak sampai gunung kapur Citatah sebelum sampai ke Bandung. Sampai hotel jam 3.00 pagi. Padahal, semenjak sakit belum pernah beraktivitas lama seperti itu lagi, tapi ternyata bisa. Capek sih, tapi senang,” ujarnya.

Nova berharap pandemi Covid-19 segera usai agar BNI-ITB Ultra Marathon bisa digelar secara offline, tidak secara virtual agar gebyarnya lebih terasa. Ia pun berkeinginan agar ajang ini tetap digelar rutin setiap tahun. “Dengan virtual juga tetap terasa walau tidak bisa ramai-ramai dan hanya bertemu dengan beberapa teman. Intinya, berolah raga bersama itu ternyata sangat menyenangkan,” katanya menutup pembicaraan.*

Share
Comments