Ira Shintia

Laser dan Asap untuk Finisher

Kami tidak akan pulang sebelum semua hal sudah tertata dengan baik. Ini demi penyambutan yang meriah kepada peserta.

Jumat, 26 Maret 2021
Jumat, 26 Maret 2021
finis1.jpg

SEMUA peserta berhak disambut bak seorang juara. Tak peduli yang paling awal atau paling akhir, semua layak mendapat sambutan setara saat tiba di garis finis. Merasakan momen akhir lomba yang spektakuler sebagai obat lelah setelah mengarungi perjalanan berat selama lomba. Hal itulah yang ingin Ira Shintia munculkan dalam setiap penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon.

Diserahi tugas sebagai event organizer yang mengurusi garis finis, Ira menginginkan setiap peserta merasakan momen terindah dan monumental di akhir perjuangan mereka. Untuk itu, ia mengaku selalu cerewet kepada rekan-rekannya di Ecoethno untuk melakukan segala persiapan dengan matang.

“Kami tidak akan pulang sebelum semua hal sudah tertata dengan baik. Ini demi penyambutan yang meriah kepada peserta. BNI-ITB Ultra Marathon ini berbeda. Kami berani membuat konsep bahwa semua peserta, tanpa terkecuali, yang masuk garis finis harus disambut oleh MC. Kemudian disorot lampu laser, asap, musik, dan dikalungi medali. Kami sampai tidak tidur selama dua hari karena peserta datangnya kan satu per satu,” ujar Ira.

Ira juga mengaku, sebagai orang yang berpengalaman di lapangan, ia selalu mendetail dalam segala perencanaan. Hal itu untuk memastikan bahwa semua berjalan baik dan semua pihak yang terlibat merasa puas. “Urusan asap untuk menyambut peserta saja harus dites dulu,” katanya.

Ira mengatakan, keterlibatannya dengan BNI-ITB Ultra Marathon awalnya karena diminta oleh teman-temannya. Pada 2017, ia hanya membantu penyelenggaraan kategori Fun Run 5K. Setelah itu, barulah pada pelaksanaan tahun-tahun berikutnya ia dipercaya untuk menangani semua urusan tata laksana di garis finis. Untuk itu, dengan segala kesibukannya sebagai panitia, ia beralasan tak pernah sekali pun turun menjadi peserta BNI-ITB Ultra Marathon. ”Sebagai panitia saya harus sudah berada di garis finis sebelum peserta tiba. Itulah kenapa saya enggak pernah ikut lari,” ujar perempuan yang menjabat sebagai Direktur Operasional Ecoethno ini berkilah.

Selama menjadi panitia di BNI-ITB Ultra Marathon, Ira mengatakan kerap mengalami kejutan selama bertugas. Apalagi panitia itu bukan hanya dari event organizer, melainkan juga dari sukarelawan alumni yang belum pernah membuat acara. Untuk itu, ia mengaku dituntut untuk selalu sigap mengatasi segala perubahan rencana yang telah disiapkan.

“Hal-hal seperti itulah membuat kita terlatih untuk bekerja cepat, bekerja kreatif, dan berubah dengan cepat. Di BNI-ITB Ultra Marathon hal itu sering terjadi. Namun, kita sih tidak masalah. Yang penting, klien senang dan apa yang menjadi misi mereka tercapai. Misinya kan bagus untuk penggalangan dana,” katanya.

Menjelang penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon yang kelima, Ira mengaku senang bisa terus terlibat. Apalagi, usulannya untuk mengimplementasikan kegiatan BNI-ITB Ultra Marathon yang berwawasan ramah lingkungan bisa diterima dengan baik oleh panitia inti. Contohnya, membuat aturan agar tidak menggunakan gelas plastik dan menerapkan aturan pemilahan sampah dengan menyiapkan tempat sampah terpisah. Tak hanya itu, ia juga selalu mengimbau panitia agar mengurangi penggunaan peralatan yang menghasilkan sampah.

“Biasanya, setelah acara selesai, spanduk-spanduk bekas kami serahkan ke bank sampah untuk diolah kembali menjadi produk bermanfaat. Pokoknya, setiap tahun kami selalu berusaha mengurangi sampah dan menggerakkan peserta untuk peduli lingkungan,” tutur Ira.

Ia menambahkan bahwa Ecoethno itu basisnya cultural and environmental awareness. Jadi, semua kegiatan harus berwawasan ramah lingkungan. “Kita coba terapkan itu juga di BNI-ITB Ultra Marathon,” ucapnya. 

Ira menuturkan, banyak hal positif yang didapatkannya dari BNI-ITB Ultra Marathon. Melihat alumni yang usianya sudah tidak muda lagi tetap semangat berlari membuat ia dan rekan-rekannya termotivasi untuk memulai hidup sehat dengan berlari.

“Saya itu enggak pernah lari. Tapi, setelah jadi panitia BNI-ITB Ultra Marathon, jadi termotivasi. Sudah setahun belakangan ini saya berusaha untuk rutin berlari. Joging-joging di rumah sampai badan sakit. Minimal berjalan kaki sejauh 5 km setiap hari. Teman saya malah ada yang mulai suka lari juga, padahal awalnya dia malas,” katanya.

Mengenai Ecoethno, Ira mengatakan, awalnya lembaga tersebut merupakan konsultan pendidikan untuk anak-anak yang berdiri pada 1997. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan adalah outbound. Outbound yang digelar selalu ditata sedemikian rupa agar benar-benar seperti pencinta alam. Menurutnya, dengan kegiatan itu bisa menghasilkan anak-anak yang bisa memimpin dan memiliki kesadaran budaya dan lingkungan. “Namun, saat ini Ecoethno tengah vakum dari kegiatan konsultan pendidikan,” ujarnya menutup pembicaraan.*

Share
Comments