Dr. Ir. Iwan Pontjowinoto, M.M., CFP

Kaus Sendiri, Medali Sendiri, Garis Finis Pun Dibuat Sendiri

Di BNI-ITB Ultra Marathon semua mendapatkan medali. Medali secara fisik maupun imajiner, yaitu bisa bersama bersilaturahmi dengan teman-teman  

Minggu, 28 Maret 2021
Minggu, 28 Maret 2021
pontjo.jpeg

BUKAN soal persaingan dan kompetisi untuk mendapat podium, kebersamaan lebih utama. Itulah arti BNI-ITB Ultra Marathon bagi Dr. Ir. Iwan Pontjowinoto, M.M., CFP. Menurut alumni Teknik Sipil ITB angkatan ’78 ini, kerja sama yang terjalin selama menempuh perjalanan Jakarta-Bandung merupakan hal yang sangat berharga. Bukan hanya dengan sesama alumni, melainkan juga dengan peserta lain.

Selain itu, mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon seperti semacam ujian melawan diri sendiri untuk mengatasi semua rintangan dan selamat sampai tujuan.

“Jangan lihat BNI-ITB Ultra Marathon ini sebagai ajang pertandingan olah raga, itu salah sekali. ITB Ultra Marathon ini merupakan ajang bagaimana alumni ITB meningkatkan kekompakan. Mungkin ada beberapa orang yang memang mengejar podium, tetapi di BNI-ITB Ultra Marathon semua mendapatkan medali. Medali secara fisik maupun imajiner, yaitu bisa bersama bersilaturahmi dengan teman-teman,” ujar CEO PT Zapfindo Arzieta Perdana ini.

Dr. Iwan mengaku, pada penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon 2017 ia hanya ikut-ikutan lari karena tidak ada anak muda yang mengajaknya. Ketika itu ia mengajak sang istri untuk menemaninya berlari.

“Kalau capek, saya naik mobil. Lalu kalau di perjalanan melihat ada teman, saya turun dan nemenin lari,” ujarnya.

Namun, pada tahun kedua (2018), ia pun mulai “mengompori” rekan-rekannya di angkatan ‘73 yang saat itu rata-rata umurnya sudah 63 dan 64 tahun untuk berpartisipasi. Walau pada awalnya banyak yang ragu mengingat umur dan tidak yakin bisa berlari sejauh 10 K, Dr. Iwan tetap gigih. Ia membujuk teman-temannya dengan mengatakan bahwa kalau tidak bisa lari, berjalan saja. Selain itu, satu etape pun bisa bertiga.

“Seharusnya kan itu enggak boleh, tetapi peduli amat. Jadi, kita bikin kaus sendiri, medali sendiri, dan garis finis sendiri. Kita enggak mengejar kemenangan kok, tapi rame-rame-nya,” katanya.

Dr. Iwan menuturkan, berbeda dengan rekan-rekannya, di tahun 2018 ia turun di dua tim, yaitu T18 dan T9. Tidak hanya turun sebagai pelari, ia pun kadang menjadi suporter bagi rekan-rekannya yang sedang berjuang. Bahkan, Dr. Iwan tak segan menemani rekannya berlari meski itu sebenarnya bukan gilirannya.

“Pada 2018 di jalur Bogor-Gadog saya sempat menemani dua teman SMP. Dua-duanya perempuan dan namanya sama-sama Iin. Kemudian di kawasan Puncak, saat di mobil, saya melihat Prof. Seno. Dia itu jago naik gunung. Tapi, di tanjakan sebelum Puncak Pass saya lihat Prof. Seno lemas banget. Tanpa bawa air minum, enggak bawa apa-apa saya turun dan mengecek dia, ternyata dia kecapaian. Akhirnya, saya menemani dan mengawalnya. Lalu, bertemu Mas Susilo yang ada di depan kita. Saya kejar dia. Dengan tenaga terakhir, akhirnya kita bisa mengejar. Kita senang banget. Hal-hal seperti itulah yang bikin kita senang dan enjoy,” katanya.

Pada  2018, Dr. Iwan mengaku bahwa ia berlari paling jauh. Karena sudah pernah ikut 25K dan yang lain belum bisa, akhirnya ia memutuskan untuk menemani rekan-rekannya. “Saya enggak peduli nomor. Saya ikut lari di beberapa titik untuk menemani mereka,” katanya.

Pengalaman selama mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon diabadikan Dr. Iwan dalam tulisan berjudul “Life in Ultra Marathon”. Menurutnya, menikmati jarak Jakarta-Bandung dengan waktu sewajarnya layaknya sebuah kehidupan. Dia menggambarkan, etape awal itu sebagai kondisi manusia setelah baru lulus sekolah dan akan memulai kerja.

Kondisi memulai start di malam hari ibaratnya seseorang yang akan mulai bekerja, tetapi masih belum tahu akan ke mana. Tidak adanya penerangan saat di perjalanan atau tanda-tanda, tidak ada water station, membuat seseorang butuh teman untuk membantu.

Sementara, etape kedua di jalur Bogor-Puncak seperti masa ketika manusia mulai tahu akan ke mana melangkah. Karena sudah pagi hari, mulai merasakan kesenangan walau rutenya tanjakan tinggi. Itu merupakan kesempatan untuk meraih puncak. Kemudian rute Puncak sampai Istana Cipanas merupakan masa “keistanaan”. Artinya, masa-masa ketika seseorang bisa menjadi presiden atau raja.

Dr. Iwan mengatakan, saat melibas rute Cianjur-Padalarang ia mulai mengalami kesulitan. Saat tiba di kawasan itu biasanya sudah Magrib sehingga gelap dan jalannya kurang bagus sampai Padalarang. Setelah melewati Padalarang-Bandung, jalannya rata an ketika itu sampai di kawasan tersebut pada saat Subuh.

Dua kali (2018 dan 2019) melewati jalur itu, biasanya ia menikmati kesendirian karena tidak ada yang menemani. Teman-temannya yang lain sudah kecapaian dan menunggu di garis finis. “Saya lari sambil mau menangis. Saya pikir begini rasanya menjadi seorang pensiunan,” katanya.

Pada pagi harinya, Dr. Iwan mulai merasakan kenyamanan sinar matahari yang menemaninya sampai di Bandung. “Di Jembatan Pasupati itu rasanya we are the champions. Saya sempat berfoto dulu di sebuah tulisan di sana. Saya enggak peduli orang-orang melewati saya. Yang penting buat saya, fotonya banyak. Finis bareng-bareng dan disambut teman-teman itu rasanya nikmat sekali,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Jamsostek, Direktur Utama PT Danareksa Investment Management, Direktur PT Bank Papan Sejahtera, Direktur Utama PT Dalle Energy itu.

Pada 2020, BNI-ITB Ultra Marathon digelar secara virtual. Dr. Iwan menuturkan, awalnya penyelenggara bingung, tetapi kegiatan harus tetap berjalan. Di luar dugaan peserta membeludak, lebih dari 5.000 orang. Dengan virtual, Dr Iwan mengatakan, tidak usah memikirkan relay, yang penting kerja sebagai tim dan berapa jam yang mesti sampai.

“Dengan virtual, peserta tidak perlu buang waktu booking hotel, mengeluarkan transpor. Di mana pun berada bisa sharing foto hasilnya bebas. Masing-masing bisa mencari sendiri lokasi sesuai dengan keinginan. Makanya, pesertanya jadi banyak,” katanya.

Ketika itu Dr. Iwan memilih kompleks Stadion Gelora Bung Karno (GBK) untuk berlari. Ia mendapatkan kenang-kenangan sebuah foto yang sangat bagus yang diambil seseorang bernama Lusiana.

“Saya difoto dengan latar belakang Presiden Soekarno dan GBK. Kalau lihat hasil fotonya, insinyur sipil yang enggak jadi presiden, yaitu saya. Di belakangnya insinyur sipil yang jadi presiden dan ada penampakan GBK,” katanya.

Dr. Iwan berharap tahun ini kalau memang ada virtual, panitia bisa buat frame-frame yang menarik seperti itu. Peserta bisa punya foto-foto yang akan membuat mereka merasa senang.

“Saya yakin 70 persen peserta merasa bahagia ikut BNI-ITB Ultra Marathon. Tidak ada acara lain yang saya ikuti bisa memberikan hal seperti itu. Itu yang harus dipahami, dilanjutkan di masa mendatang. Itu akan memberi banyak manfaat bagi manusia lain. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menghilangkan keberpihakan karena ambisi untuk kehidupan pribadi,” ujarnya.*

Share
Comments