Handaka B Mukarta

“Karung Goni Juga Bisa Finis”

Kalau ingat Bandung, ingat perjuangan. Bahwa saya pernah masuk sini dengan babak belur dan keluar juga dengan babak belur.

Selasa, 23 Februari 2021
Selasa, 23 Februari 2021
handaka-b-mukarta.jpg
Handaka B Mukarta

BAGI seorang Handaka B. Mukarta, makna di balik BNI-ITB Ultra Marathon sangatlah dalam. BNI-ITB Ultra Marathon bukanlah sekadar acara ritual tahunan atau momen kebersamaan tahunan. Lebih dari itu, ajang ini menyimpan makna yang sangat privat, bahwa hidup itu perlu perjuangan, tantangan, disiplin, dan komitmen. “Yang juga membedakan dari maraton lain, Ultra Marathon ITB adalah sesuatu yang menyatukan kami, membuat komunitas alumni kembali kepada semangat In Harmonia Progressio ITB. Itu kental sekali,” ujar Handaka.

BNI-ITB Ultra Marathon merupakan inspirasi besar bagi semua keluarga ITB untuk berani melampaui batas, berani melewati batas ketidakmampuan. Masih segar dalam ingatan alumni Teknik Mesin ITB angkatan ’86 ini, dengan perjuangan hingga bisa menyelesaikan BNI-Ultra Marathon ITB 2018. Menurut Handaka, itu adalah salah satu momen penting dalam hidupnya.

“Sepanjang lintasan menjelang garis finis, para junior, mungkin angkatan 10 tahun di bawah saya, terus meriakkan yel-yel khas ‘anak Mesin’. Seolah-olah mereka tahu, seniornya yang segede karung goni sedang punya masalah berat untuk finis. Mereka tak mau berhenti, terus mengawal saya hingga masuk finis,” ujar Handaka.

Handaka mengatakan, ketika itu sambutan yang berikan teman-temannya begitu mengharukan. Namun, yang sangat membahagiakan baginya saat itu adalah bagaimana dia merasa bisa menginspirasi teman-teman yang lain. “Orang sebesar karung goni saja bisa finis, masa mereka enggak bisa?” kata pria yang pernah memiliki bobot badan 120 kg ini.

Handaka bercerita, perjuangan sebagai pelari terakhir dari tim R16 bukanlah perkara mudah. Walau ia menyebut sebagai pelari ‘maraton-maratonan’ karena sepanjang lomba hanya berjalan kaki sejauh 10 km, mengingat kondisinya saat itu, semua hal jadi terasa berat. “Sebelum lomba saya tak bisa tidur dan tiba-tiba saja gerd yang telah lama hilang kembali menyerang, teman-teman semua khawatir,” katanya mengenang.

Bukan hanya itu, kisah perjalanan hidup Handaka sebelum mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon pun tak kalah seru. Bayangkan saja, selama 7 tahun (2005-2012) ia pernah divonis untuk berhenti bekerja atau beraktivitas apa pun. Handaka mesti beristirahat total. Aktivitas berlebihan bisa membahayakan kesehatannya. “Kondisi saya kritis. Jalan 10 menit saja heart rate saya bisa menyentuh angka 150-155, harus berhenti. Pada tahun 2005, selama kurun 10 bulan saya masuk ICU sampai tiga kali dan itu selalu dalam kondisi kritis. Saya ingat kejadian pertama ketika ada pekerjaan di Mabes TNI Cilangkap, saya dilarikan ke RS Halim Perdanakusuma dalam keadaan kritis saat itu,” ucapnya.

Handaka pun mengatakan bahwa pada 2015-2017 ia harus rutin menggunakan insulin dan obat untuk mengendalikan kadar gulanya yang waktu itu menyentuh angka 600. Ia mengakui bahwa sakit yang dideritanya lebih kepada mental sifatnya. “Selama 2005-2012, saya mengalami betapa lambatnya untuk mengembangkan diri, untuk berubah. Saya telah mencoba fitness, aktivitas lain selama itu, tetapi tidak membawa dampak yang signifikan,” ujar Handaka yang bekerja di perusahaan pembangkit listrik renewable energy dengan tenaga hidrogen, Langenburg Technology.

BNI-ITB Ultra Marathon 2017-2018 menjadi momen yang mengubahnya. Menurutnya, mungkin lomba maratonnya sekadar untuk happy-happy saja. Namun, mendapat teman yang bersemangat, berlatih, berkumpul, berdiskusi bersama, dan memunculkan komunitas lari khusus ’86, proses ini menjadi sesuatu yang istimewa.

“Di komunitas lari kami bertukar pikiran dan berdiskusi intensif. Untuk masalah COVID-19 misalnya, teman-teman komunitas pelari memiliki pandangan sangat beda. Menurut mereka, COVID-19 bukanlah masalah virus, tetapi imunitas dan imunitas itu lebih daripada antibodi. Jika kita tak punya imunitas yang cukup, kita akan menderita akibatnya. Tetapi, kalau kita memiliki imunitas yang cukup, kita lebih siap menghadapinya. Sama seperti lari, lari itu bukan hanya sekadar hobi, tetapi performansi. Mereka selalu punya optimisme,” ujar penyintas COVID-19 selama dua kali ini.

Handaka pun menyambut gembira dengan bermunculannya komunitas-komunitas lari di lingkungan ITB. Ia mengatakan, bahwa itu menjadi semacam pengikat bahwa mereka ingin bertanggung jawab terhadap hidup dengan cara berlari. “Apa pun yang terjadi, itu urusan nanti, tetapi pada saat ini, kami punya komitmen terhadap diri kami dengan cara berlari,” ujar Handaka yang telah tiga kali menjadi partisipan BNI-ITB Ultra Marathon pada 2018, 2019, dan 2020.

Sebenarnya, pada 2017 pun ia telah bersiap mengarungi BNI-ITB Ultra Marathon. Kaus peserta pun telah ia dapatkan. Saat itu, temannya secara iseng dan diam-diam mendaftarkannya ikut lomba, namun, karena minim pengetahuan tentang lari, dalam masa persiapan dua bulan ia mengalami cedera serius. Gagal jadi peserta tak membuatnya patah arang. Walau dengan keadaan kaki belum sembuh sempurna, ia tetap berpartisipasi dalam BNI-ITB Ultra Marathon 2017 dengan menjadi pengawal peserta. Handaka pun bertugas mewawancarai para peserta di garis finis untuk disiarkan melalui Radio ITB ’86.

“Saat itu tujuh bulan saya tak bisa apa-apa dan sempat empat kali ke dokter. Juni 2018, teman saya Tita Gayatri dari Elektro ’86 menyarankan metode squat stretching sambil berenang. Hasilnya ampuh, recovery-nya cepat sekali. Dua bulan latihan jalan kaki, tepat setahun, pada Oktober 2018 saya akhirnya bisa ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2018,” katanya.

Bagi pria kelahiran Februari 1967 ini, BNI-ITB Ultra Marathon juga memiliki makna simbolik bagaimana sulitnya ketika dulu masuk Bandung untuk berkuliah di ITB. “Dan saat Ultra Marathon juga demikian, ketika masuk ke Bandung dari Jakarta bukan dengan cara mudah mengendarai kereta, mobil, atau bus, tetapi dengan cara berlari. Istilahnya, kalau ingat Bandung, ingat perjuangan. Bahwa saya pernah masuk sini dengan babak belur dan keluar juga dengan babak belur,” ujar Handaka sambil tertawa.

Ia pun merasa senang dengan pelaksanaan BNI-ITB Ultra Marathon yang terus meningkat, apalagi alumni Teknik Mesin banyak pula yang turut bergabung. Ia mengatakan bahwa rekan-rekannya di Teknik Mesin ‘86 memiliki mental baja. Mereka ditempa dan dibesarkan oleh tradisi dengan mental yang tangguh semasa ospek dulu. “Itu kekayaan paling utama angkatan ‘86. Momen kebersamaannya luar biasa. Saat penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon, angkatan ‘86 menyewa stand sendiri untuk merayakan pencapaian. Bahkan, garis finis yang harusnya steril sempat ‘dikudeta’ oleh anak-anak angkatan '86,” ujarnya tertawa berderai.

Yang membuat Handaka bahagia, kini, sang istri, Adita yang merupakan alumni Teknik Kimia ITB angkatan 1986 dan anak semata wayangnya, Aryo Hastungkoro Harimurti juga mulai ikut menggeluti olahraga lari. “Walau tak pernah lari bersama, saya senang pada akhirnya kami bertiga punya kebiasaan lari. Minimal 3-4 kali dalam seminggu kami melakukan olah raga lari,” ujar Handaka yang bertekad akan berpartisipasi kembali dalam BNI-ITB Ultra Marathon tahun ini.***

Share
Comments