Betti Alisjahbana

Kalau Perlu, Alumni Udunan

Jangan sampai ajang ini enggak diadakan gara-gara sponsor. Kita bisa berdayakan alumni yang sudah memiliki komunitas untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah yang ada.

Jumat, 18 Juni 2021
Jumat, 18 Juni 2021
betti1.jpg

WALAU mengaku belum pernah berlari sejauh 10 km, pada 2018 Betti Alisjahbana memutuskan menjajal BNI-ITB Ultra Marathon. Pada penyelenggaraan kedua BNI-ITB Ultra Marathon tersebut, ia turut tergabung dengan Tim Arsitektur. “Seru walau waktu itu latihannya cukup banyak. Latihannya sih lebih ke jalan cepat saja. Santai-santai saja, yang penting selesai,” ujar alumni jurusan Arsitektur ITB angkatan 1979 ini.

Founder and Coach QB Leadership Center ini pun bercerita, karena rutin jalan kaki setiap Minggu di dekat rumahnya di Ragunan, saat itu ia dan iparnya diajak kapten tim Arsitek yang sedang merekrut anggota untuk ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2018. Betti mengatakan, banyak keseruan tercipta saat ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2018.

“Kebetulan saya ketika itu dapat rute dan start di Ciawi. Jalannya agak menanjak dan itu berat banget buat saya yang baru pertama ikut. Saya ingat, pas lagi nanjak-nanjaknya dan berat-beratnya, teman-teman yang naik mobil senyum-senyum melihat saya yang sedang berpayah-payah memakai sisa-sisa tenaga. Saya jadi kepikir, enak banget ya kalau saya yang berada di mobil tersebut,” ujar perempuan yang pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB ini tertawa.

Mendapat giliran start berlari saat subuh, ia mengatakan sangat nyaman karena udaranya masih segar. Namun, ketika menjelang finis dekat water station, jalur yang dilalui beranjak padat dengan angkot-angkot yang mulai berseliweran. Jadinya, saat itu berjalan pun agak kurang nyaman. “Ini juga sekaligus menjadi tantangan karena saya harus berebut space sama angkot-angkot di jalan,” ujar perempuan pertama se-Asia Pasifik yang menduduki jabatan Presiden Direktur IBM pada tahun 2000 ini.

Pada penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon 2019, Betti bergerak cepat. Ia menggagas untuk membuat tim angkatan 1979 dengan menurunkan dua tim. Ini merupakan keikutsertaan pertama bagi angkatan 1979 dan persiapannya juga lebih matang. “Kebetulan salah seorang anggota tim adalah Sekjen PASI, jadi kita memakai pelatih dari situ. Dua tim yang terbentuk yaitu yang tinggal di Jakarta dan di Bandung. Yang di Jakarta latihan di GBK, yang di Bandung latihannya di kampus,” katanya.

BNI-ITB Ultra Marathon 2019 meninggalkan kesan sangat mendalam bagi Betti Alisjahbana. Baginya, selain persiapannya yang sangat meriah, yang tak kalah serunya adalah keberadaan tim pendukung. Saat itu, selain ada kapten tim lari yang disandang Betti, juga ada kapten tim pendukung.

“Tim support-nya all out. Di setiap water station mereka selalu siap sedia. Masuk finis pun kita disambut oleh mereka. Mereka menyiapkan segalanya dari mulai dokumentasi dan lainnya. Saya ingat banget pas masuk finis, sudah disiapkan minuman jahe panas bikinan sendiri, makanan, buah-buahan. Pokoknya sangat meriah serasa disambut sebagai pahlawan yang baru pulang dari medan perang yang mahapenting,” kata Betti kembali tertawa lepas.

Betti pun kembali berpartisipasi pada BNI-ITB Ultra Marathon 2020 yang digelar secara virtual. Tim Angkatan 1979 malah menurunkan sebanyak lima tim. Satu tim beranggotakan empat orang dan mereka harus berlari masing-masing 25 km. Sementara empat tim masing-masing anggotanya 10 orang. Betti juga mengatakan, ada satu tim yang anggotanya perempuan semua (Juwita).

“Ini seru juga karena peserta dari angkatan kita banyak dan diselenggarakan secara virtual. Virtual juga memudahkan kita untuk bisa ikut dan jadi semacam variasi. Daripada diam di rumah terus, mending kita ikut lari ultra marathon. Sebenarnya kita juga sudah ancang-ancang untuk ikut ultra marathon berikutnya (2021) dan sudah mengajak yang lain supaya lebih banyak peserta yang ikut,” ujarnya.

Menurut Betti, dengan mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon membiasakan dirinya untuk hidup sehat. Dari sebelumnya menyelesaikan jarak 10 km dengan sebuah perjuangan dan cuma berjalan, sekarang ia mengaku hampir setiap hari berlari 10 km. “Jadi berlari sekarang sudah menjadi kebiasaan. Misalnya kalau lagi puasa, seperti sekarang ini, puasanya mah sederhana, tetapi ada yang hilang, jadi enggak bisa berlari,” ujarnya terbahak. 

Betti mengatakan yang paling berkesan dari BNI-ITB Ultra Marathon adalah kekompakan yang terbangun di antara alumni, baik itu kekompakan antarpelari dan juga kekompakan dengan tim pendukung. “Ini yang membuat saya sangat terharu. Mereka (tim support) sudah enggak ikut berlari, enggak dapat glory-nya, tapi mereka juga mesti bangun subuh-subuh. Perjuangannya sama. Malah, bisa lebih capek mereka. Makanya, beberapa anggota tim support pada tahun 2020 memutuskan menjadi pelari soalnya mereka berpikir enakan menjadi pelari,” katanya.

Satu lagi ada kejadian yang tak mungkin dilupakan olehnya. Saat lomba, agar tidak lost contact setiap anggota tim harus share location. Namun, ada satu orang yang karena kendala teknis tak bisa untuk share location. “Kita semua panik. Kita meminta tim support naik ojek untuk menelusuri jalur yang dipakai dia berlari dan akhirnya ketemu. Rupanya ada masalah dengan aplikasinya sehingga tidak bisa digunakan. Namun, dia mah tenang-tenang saja, yang panik sekampung malah kita, hahaha,” ujar Betti.  

Selain itu, menurut Betti, BNI-ITB Ultra Marathon juga menghadirkan suasana yang sangat kompetitif. Bukan hanya di lomba larinya, tetapi juga dalam penggalangan dana. Pada 2019, masing-masing peserta harus menggalang dana melalui Kitabisa untuk beasiswa. Ia bersyukur ketika itu timnya bisa menjadi juara pertama menjadi yang terbanyak dalam menggalang dana. Di luar yang resmi melalui Kitabisa, mereka juga melakukan penggalangan dana dan sponsor untuk pembuatan panel surya bagi salah satu laboratorium ITB. Ketika itu Rp 1 miliar untuk panel surya terkumpul.

“Jadi itu sangat berkesan bagi saya. Bukan hanya dapat sehat, kita juga dapat kompak. Kita juga berhasil menggalang dana untuk almamater,” ucap komisaris di dua perusahaan publik ini.

Ia pun berbagi suka duka pengalamannya menjadi kapten dan super captain pada BNI-ITB Ultra Marathon. Walau senang melihat timnya kompak dan happy, Betti mengaku tetap selalu ada kekhawatiran yang hinggap, yaitu takut terjadi apa-apa dengan anggota. Apalagi ketika lomba diselenggarakan secara fisik. Dengan kondisi di jalan raya, dinamikanya banyak.

“Suka jadi kepikiran dan tak bisa tidur. Padahal, kalau besoknya lari dan malamnya enggak bisa tidur, enggak akan optimal. Hal-hal kecil seperti terlambatnya pengiriman perlengkapan barang untuk anggota tim yang lari malam membuatnya jadi deg-degan. Namun, banyak sukanya tentunya,” kata Betti yang mengaku sedang fokus menciptakan pemimpin-pemimpin dari perusahaan yang dirintisnya tersebut.

Selain bekerja, Betti punya kesibukan lain, yaitu lari di pagi hari. Ia mengatakan, memiliki grup pelari. Mereka saling mendukung untuk terus berolah raga lari. “Kita rutin berlatih. Memakai Strava, jadi tahu siapa leaderboard-nya, berapa catatan waktu dan jarak yang ditempuh. Kita juga jadi tahu siapa-siapa saja yang enggak pernah lari lagi lalu kita tanya kenapa enggak lari,” katanya.

Sebagai pencinta lari dan alumni ITB, ia berharap BNI-ITB Ultra Marathon terus berlanjut. Ia mengatakan, momentum yang telah tercipta sangat penting dan perlu dijaga sehingga apa yang sudah terbentuk dan berjalan tidak redup lagi.

“Kalau masalahnya di sponsor barangkali kita perlu memikirkan sesuatu, swasembada misalnya. Kita bisa memakai pendekatan urun daya (crowdsourcing), kita tinggal bagi-bagi saja. Jangan sampai ajang ini enggak diadakan gara-gara sponsor. Kita bisa berdayakan alumni yang sudah memiliki komunitas untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah-masalah yang ada,” katanya.***

Share
Comments