Iriyanti Harun

Jadi Perjalanan Spiritual

Saat lari saya harus sabar, tahan marah, dan menahan capek

Senin, 1 Maret 2021
Senin, 1 Maret 2021
bu.jpeg

EVENT maraton bukanlah hal baru bagi pelari wanita Iriyanti Harun. Sebagai pelari, Iriyanti sudah pernah menjajal berbagai event maraton. Meski begitu, bagi pelari asal Makassar ini BNI-ITB Ultra Marathon berbeda dengan ajang lari lain yang pernah diikutinya. Baginya BNI-ITB Ultra Marathon menjadi perjalanan spritualnya.

Menurutnya, perjuangan lari dari Jakarta ke Bandung dengan start malam hari dan tiba di garis finis keesokan harinya membuat dia harus menahan kesabaran, mengalahkan rasa marah, sekaligus menahan capek. Disitulah yang menjadikan perjalanan Jakarta-Bandung itu sebagai perjalanan spiritual.

“Prinsip saya ketika memulai sesuatu harus mendapatkan hasil terbaik. Makanya, saat lari saya harus sabar, tahan marah, dan menahan capek. Itulah kenapa BNI-ITB Ultra Marathon itu menjadi perjalanan spiritual buat saya,” ujar Iriyanti.

Wanita yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Surabaya ini mengaku pertama kali ikut BNI-ITB Ultra Marathon pada 2018 di kategori 170 K (kilometer). Pertama kalinya dia lari menyusuri rute Jakarta-Bandung dan dia tidak punya gambaran apa pun. Saat menyusuri rute pun dia mengandalkan GPS dan tidak menyangka rute Bogor hingga Puncak itu menanjak.

“Karena menanjak terus, saya enggak langsung nge-push tenaga. Target saya waktu itu hanya berusaha meninggalkan peserta wanita di belakang saya dan mengejar posisi kedua. Di posisi pertama sudah ada Mbak Eni Rosita yang lebih berpengalaman, kalau sayak an masih nyoba. Jadi saya pun me-manage tenaga, enggak nge-push dari awal,” tuturnya.

“Tapi saya selalu bilang sama diri saya sendiri, yang saya bisa lakukan hanya berusaha, sisanya Tuhan yang menentukan. Kalau menang berarti itu bonus, itu prinsip saya,” tambah dia.

Pada beberapa event, termasuk di BNI-ITB Ultra Marathon, sebagian pasti bertanya-tanya karena ada peserta yang namanya mirip dengan Iriyanti Harun, yaitu Iriyani Harun. Iriyanti mengaku kesamaan nama itu bukan suatu kebetulan, tapi Iriyani memang merupakan saudara kembarnya.

Sebagai saudara kembar yang sama-sama suka lari, disebutkan Iriyanti, mereka berdua sering ikut lomba bareng. “Kita kembar identik. Pas lari suka sengaja pakai baju sama, sepatu sama. Itu sebagai trik kita untuk membingungkan lawan. Teman-teman di jalan juga suka kaget. Intinya, kita berdua tidak bersaing justru saling mem-back up. Tujuan kita hanya satu, harus ada yang masuk (podium). Tapi, kadang kita berdua masuk,” ujarnya.   

Pandemi Covid-19 pada 2020 membuat BNI-ITB Ultra Marathon digelar secara virtual. Iriyanti pun mengaku kecewa karena tidak bisa merasakan kembali euforianya. Dia berharap BNI-ITB Ultra Marathon bisa digelar kembali secara fisik. Menurutnya, kalau digelar secara virtual, tantangannya kurang terasa.

“Harapan saya BNI-ITB Ultra Marathon diadakan lagi karena sudah satu tahun tidak ada race, mungkin dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Kalau memang digelar lagi, saya berharap jalurnya dibuat lebih baik. Soalnya saking ramai oleh suporter tim, pas lagi lari tidak enak terhalang oleh kendaraan mereka. Itu agak mengganggu,” kata Iriyanti menyudahi obrolan.*

 

Share
Comments