Akademi Angkatan Udara

Digoda Perempuan di Jalan Sepi

Tak ada persiapan dan strategi khusus. Pokoknya lari saja terus, ngebut. Eh, tahunya kita bisa naik podium satu.

Minggu, 28 Maret 2021
Minggu, 28 Maret 2021
akademi-angkatan-udara.jpg

UNIK. Kata tersebut berulang-ulang Rudi Nur Sofyan ucapkan ketika menceritakan pengalamannya mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon. Bagi Rudi, yang merupakan prajurit TNI Angkatan Udara (AU), BNI-ITB Ultra Marathon sarat dengan kisah menarik. Dari mulai “dijerumuskan” teman, naik podium, digoda cewek ketika berlari tengah malam, sampai harus berlari triple karena empat rekannya tiba-tiba tak jadi ikut. 

Keterlibatannya dengan BNI-ITB Ultra Marathon telah dimulai sejak awal penyelenggaraan pada 2017. Kebetulan, karena Rudi juga merupakan alumni Teknik Penerbangan ITB, saat itu ia bergabung dengan tim angkatan ’96, Bi96oys. “Rada unik, karena saya masuk dari TNI, nomor induk mahasiswa saya depannya itu 98, tapi saya kuliah dengan ’96, jadi akhirnya pas ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2017, ya gabungnya dengan angkatan ’96,” kata pria yang sehari-hari bertugas di markas Komando Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara (Korhamatau) ini.

Prestasi yang dicapai pada 2017 pun tak main-main. Bersama tim Bi96oys, Rudi ketika itu naik podium pertama untuk kategori Relay 16. Padahal, saat itu ia mengaku awalnya “dijerumuskan” oleh teman kuliahnya, Alex, untuk ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2017 karena timnya kekurangan anggota. “Dengan teman di tim pun tak saling mengenal. Paling yang kenal itu rekan sejurusan dan semua hanya berhubungan lewat WhatsApp grup. Tak ada persiapan dan strategi khusus. Pokoknya lari saja terus, ngebut. Eh, tahunya kita bisa naik podium satu,” kata Rudi.

Melihat keseruan BNI-ITB Ultra Marathon membuat rekan-rekan Rudi di TNI AU tertantang untuk turut berpartisipasi. Salah seorang temannya punya ide untuk membuat tim khusus dari TNI AU. Namun, karena saat itu peserta yang ikut hanya dari alumni dan undangan, ia dan temannya mencari cara untuk bisa mendaftar.

Setelah berbicara dengan Pak Gatot Sudariyono dan diizinkan, akhirnya pada pelaksanaan 2018, mereka ikut dengan membawa nama Akademi Angkatan Udara. “Biar sama-sama sekolahan. Karena pada saat itu panitia juga mengundang kampus-kampus seperti UGM, UI, dan yang lainnya,” ujar Rudi yang beristrikan orang Aceh dan dikarunia dua orang anak ini.

Di sela-sela persiapan dan optimisme tinggi menjelang keikutsertaan BNI-ITB Ultra Marathon, Rudi mengaku timnya tiba-tiba harus kehilangan empat anggota. Dari yang seharusnya 9 orang (ikut R9), tinggal 5 orang. ”Maklum, sebagai prajurit, setiap ada perintah penugasan harus langsung berangkat. Anggota tim kita juga tidak berasal dari satu kantor, ada yang di Bandung, Jakarta, dan lainnya. Ini jadi tantangan, lomba harus tetap berjalan walau akhirnya saya harus berlari di tiga etape. Pokoknya, dari rute Bogor sampai finis di ITB, saya berdua dengan teman saya, Komang Doni, yang nge-handle,” katanya mengenang. 

Rudi juga mengatakan, selain tantangan melatih kesabaran, mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon juga merupakan ujian ketabahan. Sabar meratapi rute dan tabah dari godaan perempuan-perempuan. “Bayangkan Mas, tengah malam, ketika berlari di jalanan sepi di wilayah Bogor, tiba-tiba dua orang perempuan boncengan pakai motor nyamperin. Mereka iseng godain dan bertanya cengengesan, ‘Pak, lari ya? Finisnya di mana?’ Ada-ada saja, sudah tahu saya sedang lari ngos-ngosan, malah menggoda begitu. Mau dikejar, percuma. Mereka pakai motor,” ucap Rudi terbahak-bahak.

Pada 2020, Rudi pun kembali bergabung dengan alumni berlari secara virtual di BNI-ITB Ultra Marathon. Padahal sebelumnya, ia telah mempersiapkan rekan-rekan muda berpangkat kapten untuk terjun di BNI-ITB Ultra Marathon. Ia yakin, kalau saja hal itu terlaksana, BNI-ITB Ultra Marathon ketika itu akan sangat kompetitif.

Menurut Rudi, teman-teman pelari dari ITB itu unik-unik. Mereka kerap merendah dan rata-rata mengaku menempuh rute 10 km dengan catatan waktu lebih dari 1 jam.

”Dari semua catatan yang masuk, ternyata mereka larinya kencang-kencang. Catatan waktunya di bawah satu jam semua. Tinggal saya yang belum berlari. Terpaksalah saya harus ngibrit juga kejar setoran. Saya sedang di Yogyakarta ketika itu, berlari mulai pukul satu siang pas terik-teriknya karena paginya harus bermain golf dulu. Berlari dari Pangkalan Udara Adi Sucipto ke Tugu dan balik lagi. Alhamdulillah, masih bisa mencapai waktu di bawah 60 menit,” kata Rudi yang juga pernah mengikuti ajang lomba Pocari Sweat Bandung Marathon kategori half dan full marathon serta Tahura Trail Running Race ini.

Pelaksanaan BNI-ITB Ultra Marathon juga menginspirasi Rudi. Keakraban dan kebersamaan yang tercipta, terutama ketika di water station begitu luar biasa. Menurutnya, tak ada sekat di antara angkatan yang jauh di atas dan di bawahnya. “Yang senior dan junior membaur. Cair banget suasananya. Mereka mengobrol tanpa ada batasan, memakai bahasa lu dan gue. Kalau acara reunian di gedung tak akan seperti ini. Selain itu, biasanya perempuan-perempuan yang ikut pun gareulis,” ucap Rudi kembali tertawa.

Makanya, ia menyayangkan, karena COVID-19, BNI-ITB Ultra Marathon jadi diadakan secara virtual. Menurutnya, suasana keakraban dan keriuhannya jadi berkurang. Namun, ia mengatakan secara keseluruhan, BNI-ITB Ultra Marathon telah berjalan dengan sangat baik. Untuk itu, ia berharap, acara ini jangan sampai berhenti. Karena bukan saja sebagai kompetisi olah raga, lebih dari itu, BNI-ITB Ultra Marathon juga merupakan ajang silaturahmi.*

Share
Comments