Rilly Hutabarat

Cari Sponsor Sampai ”Todong” Alumni

Tak disangka, ada saja perusahaan yang masih punya dana dan tidak dikirimi proposal justru ingin mensponsori ajang ini.

Selasa, 29 Juni 2021
Selasa, 29 Juni 2021
rilly.jpeg

PERNAH berjuang bersama Yayasan Solidarity Forever (YSF) dalam penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon menyimpan kebanggaan tersendiri dalam diri Rilly Hutabarat. Apalagi pada perkembangannya, BNI-ITB Ultra Marathon berkembang menjadi salah satu event lari terbesar di Indonesia. Sejak tahun 2018 atau tepatnya pada penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon yang kedua, Rilly dipercaya menjadi ketua sponsorship atau penggalangan dana.

“Menurut saya, BNI-ITB Ultra Marathon merupakan acara yang paling besar kalau offline. Exposure-nya besar sekali, tim support-nya satu tim saja bisa 2 sampai 10 orang, banyak,” ujar alumni Teknik Mesin ITB angkatan 1998 ini.

Dia bercerita, saat awal digelar, pihaknya mengalami kesulitan mencari sponsor. Untuk mendapatkan sponsor, tim sampai harus ”menodong” alumni yang bekerja di suatu perusahaan agar mau terlibat urun dana dalam penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon.

Namun, seiring berjalannya waktu, dengan penyelenggaraan acara yang konsisten dan jumlah peserta yang terus bertambah, Rilly mengatakan, sponsor mulai melihat BNI-ITB Ultra Marathon sebagai ajang yang pantas untuk membelanjakan anggaran perusahaan mereka.

“Jadi, sebelum-sebelumnya kita seperti memohon. Tetapi, makin ke sini semuanya terbalik, Perusahaan itu kan punya budget untuk memperkenalkan perusahaan mereka dan ITB Ultra Marathon menjadi target mereka untuk melakukan hal itu,” kata pria yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Mesin (IAM) ITB pada 2020 itu.

Sayang, pandemi COVID-19 yang mulai masuk ke Indonesia pada 2020 lalu membuat pihaknya kembali harus berjuang untuk mencari sponsor. Timnya kembali harus mengirim proposal ke perusahaan-perusahaan. Tak disangka, menurut Rilly, ada saja perusahaan yang masih punya dana dan tidak mereka kirimi proposal justru ingin mensponsori ajang ini.

“Tahun lalu tidak banyak sponsor, tapi ada. Bahkan, mereka yang menawarkan diri. Andaikan tidak pandemi, mungkin akan lebih banyak perusahaan yang berinisiatif menanyakan apakah masih bisa mensponsori BNI-ITB Ultra Marathon ini,” ujarnya.

Jumlah peserta yang terus bertambah di setiap penyelenggaraan, disebutkan Rilly, menjadi nilai lebih bagi timnya untuk melakukan bargaining dengan sponsor. Dia mencontohkan BNI sebagai sponsor utama kegiatan. Meski sudah mengikat kontrak hingga 2020, timnya bisa bargaining dan sampai mendapatkan Rp 2 miliar lebih pada tahun lalu.

“Kalau angka (anggaran) kurang, sedangkan peserta banyak, secara keuangan ‘kami tidak bahagia’. Tetapi, dengan banyaknya peserta, kita bisa melakukan bargaining kepada sponsor. Subsidi untuk peserta bisa tertutupi oleh sponsor,” katanya.

Bukan hanya sebagai panitia, Rilly pun secara langsung merasakan keseruan berlari menjadi peserta pada BNI-ITB Ultra Marathon 2018.

“Saat menyusuri rute saya melihat ada peserta yang umurnya sekitar 60-an. Dia masih semangat berlari di tengah malam. Orang lain sedang tidur nyenyak, tapi peserta BNI-ITB Ultra Marathon malah berlari. Entah kenapa, tetapi saat itu saya merasa haru, bangga juga bisa merasakan perjuangan teman-teman maupun peserta lainnya,” tuturnya.

Pada tahun berikutnya, sang istri pun mulai mengikuti jejaknya. Bagi Rilly, bisa berlari bersama istri di BNI-ITB Ultra Marathon menjadi momen yang romantis. Kebersamaan itulah yang membuat Rilly berharap BNI-ITB Ultra Marathon bisa kembali digelar secara fisik lagi suatu hari nanti.***

Share
Comments