Hendra Siswanto

Back to Campus dan Podium

Ketika masuk garis finis di kampus ITB, momennya benar-benar berbeda, super mewah. Ada asap, lampu sorot, musik, alumni yang menyambut.

Rabu, 24 Maret 2021
Rabu, 24 Maret 2021
hendra-siswanto.jpeg

MENGUJI ketahanan fisik dan mental dalam lari jarak jauh bukanlah hal baru bagi Hendra Siswanto. Pelari endurance ini telah malang melintang di dunia lari jarak jauh sejak 2014. Lomba ultra marathon, baik di luar negeri maupun dalam negeri, kerap dijajal pria asal Benculuk, Banyuwangi tersebut. Prestasi fenomenalnya yaitu menjadi pelari pertama yang melewati garis finis Tambora Challenge 2019. Berlari lintas Sumbawa sejauh 320K, ia naik podium dengan catatan waktu 55 jam 56 menit.

Prestasi gemilang pun pernah diraih Hendra pada ajang BNI-ITB Ultra Marathon. Dalam tiga kali penyelenggaraan (2017, 2018, 2019), ia berhasil naik podium sebanyak dua kali dengan meraih posisi ke-3 pada 2017 dan 2019. Ada ikatan batin yang terjalin antara Hendra dan BNI-ITB Ultra Marathon.

“Sebagai alumni saya merasa terpanggil untuk ikut. Ini bisa menjadi ajang bertemu dengan teman-teman seangkatan yang ada di Bandung dan teman sekampus lainnya. Kita lari back to campus sekalian bereuni,” ujar Hendra yang merupakan alumni Teknik Industri ITB angkatan ’98 ini.  

Padahal, menurut Hendra, awalnya ia sempat ragu bisa mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon 2017 karena telah mendaftar untuk ikut lari 100K di gunung yang pelaksanaannya persis seminggu sebelum BNI-ITB Ultra Marathon 2017 digelar. Namun, ajakan teman-temannya serta pelari ultra senior Gatot Sudariyono untuk bergabung membuatnya hatinya luluh.

Hendra mengatakan ada keunikan tersendiri dari ajang BNI-ITB Ultra Marathon karena melewati tanjakan Puncak yang cukup terjal. Selain itu, persaingan di kategori solo relatif kompetitif karena pelari-pelari andal lain juga ikut ambil bagian.

“Yang paling berkesan adalah ketika masuk garis finis di kampus ITB. Momennya benar-benar berbeda, super mewah. Ada asap, lampu sorot, musik, alumni yang menyambut. Saya merasakan balik ke kampus lagi dengan penuh kegembiraan dan semangat. Terselip rasa bangga karena sebagai alumni ITB juga bisa naik podium, bisa bersaing dengan pelari tangguh seperti dari militer yang notabene punya fisik kuat,” kata pria yang bekerja sebagai drilling engineer perusahaan gas dan minyak ini.

Menurut Hendra, seni mengikuti lari jarak jauh di atas 150K seperti ultra BNI-ITB Ultra Marathon ada pada pengaturan strategi, tak melulu mengejar kecepatan. Selain itu, pasti banyak cerita yang didapat karena lomba biasanya digelar lebih dari satu hari.

“Semua ada, mulai dari sempat down karena mengantuk, jalan kaki bersama teman, dan banyak foto-foto bersama. Strategi juga harus mumpuni. Berapa banyak air yang kita bawa, berhenti seberapa lama, makan seberapa banyak. Tak boleh terlalu cepat di awal agar kondisi tak mudah drop. Kita harus bisa mengevaluasi bahaya-bahaya untuk badan sendiri,” ujar suami dari Patricia dan ayah bagi Disa, Reina, dan Gavin ini.

Secara keseluruhan penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon, menurut Hendra sudah cukup baik. Namun, secara spesifik ia mewanti-wanti agar rute yang disiapkan benar-benar aman. Karena digelar di jalan raya, risikonya tinggi, ramai dengan lalu lalang kendaraan dan rentan polusi udara. Selain itu, jarak tempuh pun lebih baik distandarkan.

“Rute ke Puncak itu menyenangkan, tapi begitu masuk Cianjur sampai Padalarang riskan karena jalanan padat. Ini enggak ideal buat pelari. Untuk jarak, biasanya standar untuk lari jarak jauh adalah 100K, 100 mile (161K) atau 200K, enggak 170K. Tapi, yang 2019 itu sudah bagus, 200K,” katanya.

Hendra juga menyoroti kurangnya pendokumentasian tentang catatan hasil akhir (result). Menurutnya, bagi seorang pelari catatan hasil akhir dalam sebuah lomba itu sangat diperlukan. Sampai saat ini, ia merasa kesulitan untuk melihat lagi catatan waktu yang dicapainya pada penyelenggaraan BNI-ITB Ultra Marathon.

Hendra Siswanto mulai menekuni lari pada 2013. Itu pun tak secara sengaja. Memiliki kadar kolesterol tinggi, saat itu dokter menyarankannya untuk rutin berlari dua hari sekali. Kebiasaan ini membuatnya semakin terlatih, dari awalnya hanya beberapa kilometer, hingga ratusan kilometer. Semua perkembangan program latihan pun secara terukur dia catat menggunakan aplikasi.

”Kalau rutin, kita bisa makin jauh. Tubuh kita makin kuat. Istilahnya, jarak itu terasa memendek, padahal bukan jaraknya memendek. Itu karena kita telah terbiasa, tubuh telah beradaptasi dengan rutinitas,” ujar Hendra yang selama pandemi tetap rutin mengadakan latihan bersama komunitas kecilnya.

Selain ajang kompetisi, Hendra pun aktif di gelaran lari charity, berlari sekaligus menggalang dana membantu sesama. Sejak 2017, ia tak pernah absen berpartisipasi dalam Run to Care bersama SOS Children’s Village untuk membantu dan berkontribusi langsung bagi pemenuhan hak anak-anak di Indonesia.* 

Share
Comments