KISAH PARA PELARI ANGKATAN 70

Jumat, 26 Maret 2021
Jumat, 26 Maret 2021

Syahrial Loetan (SI)

Episode Jersey

Setelah melewati segala kehebohan, tim ITB ‘70 akhirnya memutuskan ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2018. Kini, tim fokus pada penentuan kaus seragam atau bahasa kekiniannya jersey. Salah satu kebutuhan yang tidak bisa dianggap sepele. Sebenarnya hal klasik penentuannya ada pada tiga hal, yaitu desain, warna, dan bahan.

Sekitar pertengahan Agustus, saya menghubungi Glenn, adik kelas ketika di SMA Canisius. Dia sudah pernah membuat jersey untuk Tim Runner Canisius dan terus terang saya jatuh hati dengan desain dan komposisi warnanya. Gayung bersambut, Glenn bersedia memberikan nomor HP contact person di workshop mereka di daerah Kapuk.

Setelah menelepon, berunding, dan mempertimbangkan banyak hal, warna orange dan biru menjadi pilihan. Konsultasi jersey ini ternyata cukup panjang dan berliku. Banyak komentar dan masukan, termasuk apa yang akan ditulis di bagian dada depan, tangan, serta punggung. Yang jelas, tidak boleh lupa harus ada tulisan BNI-ITB Ultra Marathon. Mengingat keikutsertaan angkatan ‘70 adalah untuk menggalang dana, mesti tercantum tulisan Dana Lestari ITB. Untuk bahan jersey, saya tidak mau berspekulasi dengan memakai bahan kelas 2.

Berikutnya, kami pun meminta teman-teman, baik yang atlet, suporter maupun soraker, untuk mengisi daftar pesanan berikut ukuran yang diinginkan. Proses ini ternyata menjadi bagian yang paling ruwet. Ada yang ingin tangan panjang, ingin ada kupnat, ingin mengubah ukuran dan jumlah pesanan. Serunya lagi, pada saat jersey sudah masuk proses produksi, tetap saja ada yang menyusul memesan. Bujuk rayu pun dikeluarkan agar workshop mau membuat pesanan tambahan tersebut.

Alhamdulillah, segala keruwetan terlampaui, jersey tim ITB ‘70 telah selesai diproduksi. Bangganya, jersey kami cukup banyak mendapat pujian karena warnanya yang eye catching, tetapi  tidak norak dengan bahan yang halus.

Berbekal pengalaman saat persiapan BNI-ITB Ultra Marathon 2018, rasanya untuk tahun 2019, tim ITB ‘70 akan tampil dengan jersey lain yang lebih menarik dan heboh. Bukan hanya itu, pada 2019, kami juga akan berpartisipasi dengan tim yang lebih banyak sehingga semangat kekompakan akan lebih menguat.

Episode Hari-H BNI-ITB Ultra Marathon 2018

Setelah penantian cukup lama, dari minggu ke minggu, dari hari ke hari, akhirnya tiba jualah hari lomba BNI-ITB Ultra Marathon 2018, Jumat 12 Oktober 2018.

Mengingat jadwal tanding malam hari dan akan selesai dini hari, saya putuskan mencari tempat menginap di sekitar Mampang Prapatan. Hal ini untuk praktisnya mobilitas ke tempat tanding dan sesudahnya nanti.

Kebetulan hari H adalah hari Jumat. Saya minta izin untuk tidak masuk kantor. Rencananya setelah salat Jumat, saya bisa tidur dua jam-an agar pada waktu berlomba di malam hari tidak mengantuk. Sepulang dari masjid, saya berbaring. Tapi, gawat, mata tak bisa diajak kompromi, malah tak kunjung mengantuk. Akhirnya, rencana tidur siang gagal total. Sehabis salat Ashar, dengan membawa semua perlengkapan lomba, termasuk pakaian yang akan dibawa ke Bandung pada hari Sabtu, diantarlah saya oleh Yayat, sopir setia saya yang telah menemani lebih dari 30 tahun.

Tempat transit dan menginap di Mampang Prapatan jadi saksi bisu seorang lelaki 60 tahunan bersiap menjajal kekuatan pada BNI-ITB Ultra Marathon 2018. Segala sesuatu sangat dijaga agar malam nanti tidak ada accident sakit perut atau lainnya.

Setiap pelari disepakati akan mendapat pengawalan dari dua asisten yang mengendarai motor. Yang satu di depan, yang satu lagi mengikuti di belakang. Pengawal di depan saya adalah Maman, asisten Neng Dinah. Sedangkan di belakang adalah Denny dari Medco Ampera. Sebelumnya, saya memberi tahu Denny bahwa saya akan start dari tempat transit di Mampang Prapatan. Jadi, saya minta dia datang lebih cepat agar dapat menemani saya makan, sebelum mengantarkan saya ke gedung BNI Sudirman.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Denny datang. Ketika survei tempat makan, rupanya di sekitar tempat saya menginap banyak penjual makanan berminyak, seperti nasi goreng, kebab, nasi kebuli. Denny mewanti-wanti agar saya tak mengonsumsi makanan berminyak, cari aman agar perut tak bermasalah. Akhirnya, pilihan jatuh ke sebuah resto soto lamongan. Tak terlalu memikirkan soal rasa, yang penting perut terisi agar ada tenaga untuk lomba.

Selesai salat Magrib dan Isya, saya berbenah, mengenakan pakaian lomba. Aksesori tambahan saya masukkan ke dalam backpack. Saya pun diantar Denny menggunakan motor ke BNI Sudirman. Maman, pengawal lainnya, tampak sudah standby di sana. Saya turun mengayunkan langkah ke tempat start. Suasana ramai sekali. Ada band, food truck, dan berbagai keramaian lain, termasuk di area pendaftaran.

De Sorakers ITB ’70 sigap menyambut. Rupanya mereka sudah berkumpul dengan jersey ‘70 yang kece. Ada Tante YP, Bukets, Mbak Ayu, Reny Ang, Uni Ermi, Nuksye, Zus Magda, Teh Ati, Madam Bugis dan Prof Cyccu van Toledo. Para pria tampan, Mas Susilo, Broer RR, Om Wong, Mas Narno, Mang Eme, dan Bang Deks juga telah hadir di sana.

Dengan segala keriuhan di tempat start, tim ITB ‘70 menjadi pusat perhatian, bak seleb. Tua, tapi kece, he he he.... Beberapa kali, tim anak-anak muda mengajak kami berfoto. MC juga sering meneriakkan yel-yel, “ITB 70!!!” Bahkan, band meminta tim kami joget rame-rame di depan panggung sambil diringi lagu “Jaran Goyang”.

Ketika wara-wiri, saya menemukan Neng Meltje yang merupakan pelari di etape terakhir, di antara kerumunan. Rupanya Neng Meltje sedang bertugas mendampingi Pak Warek saat menaikkan bendera start nanti. Neng Meltje mengingatkan saya untuk mendaftar ulang tim agar mendapatkan pengesahan dari panitia. Saya menerima buff, semacam selendang yang nanti diestafetkan kepada pelari berikutnya.

Episode Lari di Estafet Pertama

Sambil menunggu saat start, saya mengamati sekitar. Sumpah mati, dari kecil sampai setua ini, inilah peristiwa paling dramatis karena ikut lomba lari, jarak jauh pula. Lawannya pun bukan main-main, anak-anak muda usia 30-an, 40-an, dan 50-an.

Para penggede, Direktur BNI, Wakil Rektor ITB, Ketua Yayasan Solidarity Forever sebagai penyelenggara, sudah siap di panggung kehormatan. Band serta musik lainnya sudah diminta untuk berhenti karena acara akan segera dimulai. Panitia mengumumkan bahwa para atlet dibagi dalam dua kelompok besar. Kelompok satu terdiri atas pelari 1 x 170 km dan 2 x 85 km. Kelompok dua adalah seluruh atlet sisanya, yang Relay 4, Relay 8, dan Relay 16 (yang diikuti oleh tim ITB ‘70).

Di barisan kelompok satu, para atlet profesional telah bersiap. Mereka berbadan slim dan membawa perlengkapan lari malam hari. Setelah semua siap, kelompok pertama dilepas tepat pada pukul pada pukul 22.00. Begitu bendera berkibar, mereka melesat bagaikan anak panah dan tak terlacak lagi.

Di belakangnya, kelompok dua, termasuk saya yang belum pernah ikut tanding berbaris. Saya mengambil posisi paling depan. Dua gadis memegang spanduk sehingga tidak seorang pun bisa melewatinya sebelum tanda dikibarkan tepat pukul 22.05 WIB. Begitu bendera naik, si gadis berlari ke samping dan memberi jalan bagi para atlet untuk bergerak maju dibawah sorak sorai penonton (termasuk teman-teman ITB ‘70). Betapa kagetnya saya dan darah pun tersirap melihat anak-anak muda di samping saya langsung sprint serta melesat maju. Antara kaget dan bercampur malu, saya pun mencoba berlari cepat ke depan, belok kiri sambil menurun menuju terowongan Dukuh Atas. Polisi yang mengatur lalu lintas memberi tanda agar barisan atlet jangan sampai terputus. Saya mempercepat lari, terus, terus, dan terus... sampai napas tersengal-sengal. Dalam hati saya ngomel, anak-anak muda itu bukannya start kalem-kalem saja.... Hiks.

Saya mengira setelah mencapai Jalan Sultan Agung akan langsung belok kanan melewati Gedung Landmark. Namun, rupanya perkiraan meleset. Kami mesti berlari sampai mencapai U-turn pertama, baru balik arah, kemudian belok kiri di samping danau air limbah menuju Kuningan. Lumayan jauh.

Perjuangan di kilometer pertama yang semestinya belum apa-apa sudah membuat saya kehausan. Kerongkongan kering. Tapi, saya coba menahan untuk tidak minta minum kepada Denny yang mengawal beberapa meter di belakang saya. Namun, menjelang MMC, tenggorokan saya tidak bisa kompromi. Akhirnya saya minta sedikit air ke Denny. Alhamdulillah. Pertarungan pun berlanjut.

Karena seminggu sebelum tanding rute Kuningan ini sudah pernah saya jajal bersama Miss Gubrag, saya sudah menandai beberapa titik yang harus saya capai dengan waktu tertentu. Namun, karena rute awal ditambah mungkin sekitar 1 km, orientasi saya agak sedikit error. Yang jelas, menjelang persimpangan underpass Gatot Subroto, waktu yang terpakai sudah hampir satu jam.

Panitia meminta semua atlet ikut lari masuk melewati underpass dan meminta kita cepat supaya tidak menggganggu lalu lintas Jumat malam yang padat. Selama menempuh jalur Kuningan, selain berhati-hati terhadap kepadatan kendaraan, susul-menyusul terus terjadi. Emosi pun mulai terpacu, hehehe....

Saat melewati underpass Gatot Subroto, rupanya Denny mengambil video saat saya menyusul seorang gadis angkatan muda. Ketika video tersebut saya upload di Facebook, Bang Guntur Siregar kaget. Rupanya anak gadisnya yang saya salip.

Keluar dari underpass, jalanan agak menanjak. Dengan napas tersengal-sengal saya sampai juga di Mampang Prapatan yang naudzubillah padatnya. Kadang kita harus mengalah untuk naik ke trotoar yang sempit. Di jalan yang lurus itu, ternyata ada juga turunan dan tanjakan landai. Di situ banyak momen susul-menyusul. Sering kali disusul, tapi saya lumayan sering juga menyusul. Saya khawatir teman-teman di etape berikutnya akan dirugikan. Saya terus berusaha, jalan lari, jalan lari, jalan lari. Menjelang Pejaten Mall dan hampir mencapai finis, saya coba lari lagi, tapi lutut kanan saya terasa agak nyeri. Jadi, saya hanya bisa jalan cepat. Tak mau menyerah, saya coba lari lagi, tapi tak sanggup.

Akhirnya, beberapa puluh meter di bagian depan terlihat kerumunan. Rupanya itulah lokasi Water Station (WS) 1, tempat saya harus menyerahkan buff kepada Neng Dinah. Pukul 23.59 WIB saya sampai di WS 1 dan berfoto dengan Neng Dinah yang berwajah cemas karena waktu saya agak mundur sedikit. Serah terima pun selesai.

Episode Mengawal Neng Dintje sebagai Pelari Etape Dua

Sesampainya di Water Station 1, yang berjarak 12,05 km dari titik start di BNI Sudirman, berakhirlah sudah tugas saya. Dari awal saya memang sudah berniat akan ikut mengawal Dintje dengan diboncengkan oleh motor pengawal yang dikendarai Denny. Kaki yang masih terasa kebas setelah jalan dan lari di etape pertama tidak begitu saya pedulikan. Saya langsung naik ke boncengan. Saya ambil tongkat panjang yang berkelap-kelip sebagai alat bantu mengatur lalu lintas dan sekaligus memberi tanda/kode pada pelari. Jadi, saya bertindak sebagai panitia tidak resmi. Hehehe….

Kembali ke Neng Dintje. Dia berjalan dengan cepat, memakai rompi dan topi yang mengandung bahan pantul. Motor kami arahkan mendekati Dinah, tapi dalam jarak yang tetap memungkinkan kami mengamati. Sesekali kami menyusul, kemudian berhenti untuk memberi waktu bagi Dinah tetap dalam pantauan. Di depan dan belakang Dinah, banyak pelari lain yang kebagian jatah ikut kami awasi.

Etape dua ini termasuk unik karena melalui jalan arteri di samping JORR yang cukup lebar, tetapi lalu lintasnya pun ramai. Setelah melalui flyover, berbelok ke kiri ke arah utara kembali. Dan setelah cukup jauh, harus U-turn menyusuri rel kereta api dan kemudian tinggal lurus. Situasi jalan di tepi rel kereta api cukup sunyi dengan lampu jalan yang tak begitu terang. Nah, di sini saya baru berpikir, betapa kurang nyaman bagi pelari wanita jika berjalan seorang diri. Panitia memang ada di sepanjang jalur, tetapi jarak antar-panitia cukup renggang sehingga bisa terjadi sesuatu. Kebetulan di etape ini jarak antar-pelari cukup jauh sehingga tidak terlihat pengelompokan pelari.

Pada saat kami sedang berhenti menunggu Dinah di sekitar pertengahan etape, ada seorang peserta yang berjalan berpasangan dengan teman prianya, rupanya menginjak tepi trotoar yang tidak rata sehingga jatuh terduduk di tepi jalan. Denny dengan gesit membuka kotak P3K dan mengeluarkan krim gosok untuk mengobati kaki si wanita. Setelah beberapa saat si mbak merasa lebih enakan dan dengan lambat mulai berjalan kembali bersama teman prianya. Kami pun segera menyusul Dinah yang sudah menjauh.

Ketika disusul, saya lihat wajah Dinah kelihatan kelelahan. Saya tawarkan apakah ia memerlukan kurma untuk penambah tenaga. Tapi, Dinah tidak menjawab dan terus berjalan dengan cepat. Dia malah minta tolong diisikan air ke botol kecilnya yang sempat saya kira botol parfum! Dengan terus mengikuti Dinah, saya pun mengamati bahwa di jalan itu terdapat stasiun KRL Lenteng Agung. Sepanjang jalan ternyata banyak usaha cuci mobil. Gelo phizan, nyuci mobil kok tengah malam.

Setelah menelusuri jalan yang lurus, akhirnya melewati bundaran yang merupakan jalan cabang menuju kampus UI. Artinya, tak lama lagi Dinah akan sampai di Water Station 2, tempat akhir etape dua. Sekitar pikul 01.45 WIB, sampailah Dinah di titik finisnya. Di sana dia disambut ustad kondang van Cireundeu, Om Boyke Sofyar yang ditemani panglimanya anu geulis, Evi. Setelah serah terima buff dan foto-foto, berakhirlah tugas saya sebagai pengawal pelari dua.

Setelah cipika cipiki dan mengucapkan good bye, saya meminta Denny mengantarkan saya ke Mampang Prapatan untuk istirahat. Lumayan jauh perjalanan tersebut, apalagi dilakukan di tengah malam yang terasa dingin karena saya hanya mengenakan jersey. Sesampai di kamar, saya sempat melihat jam tangan saya pukul 03.00 pagi. Kaki terasa lebih enakan walau masih kebas setelah perjalanan saya di etape pertama. 

Boy Sofyar (TI)

Keputusan Gila

Semasa muda sampai ke jenjang SMP, aku mengikuti olah raga sepak bola dan basket. Setelah menginjak SMA, aku tak pernah lagi berolah raga. Belakangan, aku hanya berjalan sepanjang 2 km. Itu pun aku lakukan bila ingin melaksanakan ibadah umrah atau haji. Setelah selesai melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, aku pun berhenti menjalankannya.

Pada bulan Juli tahun ini, di acara pertemuan dengan para sobat di Escape, tercetuslah keinginan untuk membentuk tim ITB ‘70 guna mengikuti kegiatan BNI-ITB Ultra Marathon sejauh 170 km. Dibutuhkan 32 pelari yang masing-masing akan menempuh jarak 5 km. Aku mendaftarkan diri, bukan sebagai pelari, tapi sebagai anggota tim logistik karena sadar tidak kuat menjadi pelari.

Waktu terus berjalan, tiba-tiba musibah mendatangi keluargaku. Ibunda tercinta dipanggil oleh Sang Pencipta. Para sobat datang melayat ke rumah duka, salah satunya Donie. Sambil menunggu salat jenazah, ia bercerita bahwa tim ITB ‘70 masih kekurangan pelari. Spontan kujawab bahwa kalau untuk 5 km akan kucoba. Aku pun mulai menyiapkan diri dengan berlatih berjalan dari 2 km, yang terus kutingkatkan hingga mencapai 5 km.

Di tengah masa latihan, ada pemberitahuan dari panitia bahwa tiap pelari harus menempuh jarak sekitar 10 km, bukan 5 km. Saat itu hatiku mulai bimbang. Namun, para sobat memberi semangat dan berkaata, “Masih ada waktu 2 bulan lagi. Kita coba latihan dulu, Hasilnya bagaimana nanti.”

Sebulan menjelang pelaksanaa, aku memberi tahu istriku, Evi, bahwa aku terpaksa menjadi salah seorang peserta karena tim ITB ‘70 kekurangan pelari. Mendengar itu, dengan muka terkejut ia hanya berkata, “Memangnya kuat dan bisa? Olahraga saja tidak pernah kamu lakukan.” Selain itu, waktu teman-teman salat Jumat kuberi tahu, mereka memberi komentar antara lain, “Lo udah gila, itu sama saja cari mati...”. “Umur lo udah 67, olahraga enggak pernah. Coba dipikir lagi...” Pendeknya, komentar-komentar mereka semua negatif.

Hatiku pun bergejolak. Apakah aku harus mengatakan kepada para sobat pelari bahwa aku mengundurkan diri? Namun, akhirnya kuputuskan untuk mencoba terus berlatih karena bila aku mundur, pastinya mereka semua akan kecewa. Porsi latihan kutingkatkan menjadi 5 kali dalam seminggu. Aku teringat dengan pepatah yang mengatakan, “Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan.”

Akhirnya, alhamdulillah, aku dapat menyelesaikan etape yang menjadi tanggung jawabku dengan finis di bawah waktu yang ditentukan panitia. Mungkin inilah suatu “keputusan gila” yang pernah aku ambil dalam hidupku. Semoga di sisa usia ini, tidak ada lagi “keputusan gila” yang harus kuambil.

Jumat Mencekam

Menunggu dimulainya lomba membuat perasaan makin tak menentu, stres berat. Pada malam menjelang lomba, badan rasanya tidak keruan, meriang, dan ngilu. Campur aduk. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi aku tetap tak dapat memincingkan mata. Diam-diam, aku minum Panadol 1 tablet.

Biasanya hari Jumat kulalui dengan riang gembira karena setelah Jumatan kami akan menikmati makanan aneka rupa tanpa harus memikirkan tagihan, hehehe.... Namun, di hari Jumat, 12 Oktober 2018, aku terbangun dini hari dengan kepala agak pusing dan badan terasa pegal linu. Mungkin ini karena sampai pukul 01.00 mataku masih terjaga akibat pikiran yang berkecamuk mengenai keikutsertaanku di BNI-ITB Ultra Marathon. Pagi itu aku menelan 1 tablet Panadol lagi. Aku tidak memberi tahu keadaanku ini kepada istriku, Evi, karena pasti aku tidak akan diizinkan ikut lomba.

Aku melaksanakan salat Jumat di dekat rumah agar tubuh tidak letih menempuh perjalanan pulang pergi yang biasanya memakan waktu hampir 3 jam. Sore harinya, perutku mendadak mulas dan tiap sebentar terpaksa ke kamar kecil. Mungkin inilah yang dirasakan para atlet ketika akan mengikuti pertandingan.

Pukul 22.30, aku bersiap-siap karena pada pukul 00.15, yaitu 45 menit sebelum sobat Dinah sampai di garis finisnya, aku sudah harus berada di sana, yang merupakan tempat startku. Pukul 23.15, aku berangkat dengan didampingi Evi menuju kampus STT Nurul Fikri. Selama dalam perjalanan kami diam membisu, masing-masing bergulat dengan pikirannya masing-masing. Di pikiranku berkecamuk aneka kebimbangan. Apakah aku dapat menyelesaikan 10 km yang menjadi tanggung jawabku? Apakah lututku, yang sudah bermasalah sejak tiga tahun lalu, tidak akan kumat? Tiba-tiba ada panggilan face time dari Katharina, cucuku. Dia hanya berkata, “Take care Pasya, do the best,” tapi cukup membuatku bersemangat kembali.

Setiba di tujuan, Ramdan, salah satu pendamping, mendatangi seraya berkata, “Etape bapak bukan 10 km tapi 11 km karena jalan yang diambil yang paling kiri, bukan yang di tengah.” Dalam hati aku ngedumel, karena waktu ketemu dengan Mas Hari, salah satu panitia, aku sempat menanyakan jalur untuk etape 3 karena ada jalur. Dan mendapat jawaban, “Yang 10 km dan jalannya besar serta ramai. Kenapa bisa berubah? Tapi, memangnya bisa protes? Nikmati saja perjalanan yang lebih panjang, hahaha....

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Dinah masih bergelut dengan kemacetan jalan. Benar kata orang bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan.

Akhirnya pada pukul 01.40, Dinah tiba dan langsung kami berfoto ria. Kemudian disusul dengan kedatangan Uda. Inilah ketua yang baik, bertanggung jawab terhadap anak buahnya. Kembali kami ber-narsis ria, sampai Uda mengingatkan, “Din, apakah buff sudah diserahkan? Boy, cepat berangkat!” Pada waktu itu jam menunjukkan pukul 01.55. Berarti kami narsisan selama 15 menit. Kami tidak tahu bahwa panitia menghitung waktu start pelari dihitung dari kedatangan pelari sebelumnya. Untung kita bukan mencari gelar juara. Yang penting kebersamaan dan happy, hehehe....

Setelah melewati 500 m pertama (ini saya ketahui karena pendamping diminta berhenti tiap 500 m dan menunggu saya melewatinya sebelum ia melanjutkan perjalanan), tiba-tiba 5–6 pelari melewati aku seraya berkata, “Mas, jalan? Kami duluan.” Kalau mengikuti kata hati, mungin aku akan ikut berlari. Untung kuingat kata-kata bijak, “Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin.”

Melewati 1 km, betis mulai terasa agak naik, tapi alhamdulillah di kilometer 3 sudah terasa normal kembali. Mungkin itu karena betisku sudah ditempel dengan koyo pemberian sobatku, Cyccu (trims, Cyccu!). Untuk diketahui, selama latihan aku sudah menghabiskan koyo 3 pak. Memasuki kilometer 4, aku bertanya pada pendamping berapa kilometer yang sudah kulalui. Ketika dijawab 3 km, aku kembali bertanya, Bukannya sudah 4 km?” Dia menjawab, “Yang 1 km pertama tidak saya hitung. Kan Bapak latihannya untuk 10 km. Bohong yang kreatif dan positif.

Di kilometer 5, aku mencoba berlari kecil sampai kilometer 7. Mungkin ada 15–20 pelari yang kulewati. Malah, ada yang memakai kaus dengan tanda angkatan ‘94. Dari kilometer 7–9, aku berlari diselingi dengan berjalan. Aku ingat kata-kata Denmas dan Bude, di usia kita ini jangan sampai detak jantung melewati 130. Kalau Denmas dan Bude, bisa melihat detak jantungnya di smart watch yang mereka pakai. Tapi, orang Cireundeu karena tidak punya, jadi pakai perasaan saja.

Pada kilometer terakhir, kukatakan kepada pendamping, “Kamu tunggu di garis finis dan kasih tahu ibu.” Evi dengan kendaraannya setia mengiringiku dan berhenti di setiap 2 km, menunggu aku lewat. Begitu melewati belokan jalan, di depan mata sudah terlihat lampu-lampu. Aku menambah kecepatan lari dan akhirnya, alhamdulillah,  mencapai garis finis dalam tempo di bawah waktu yang ditetapkan panitia. Kulihat Evi sudah menanti bersama Rani berikut the happy family-nya.

Aku difoto bersama Rani untuk arsip panitia dan tentunya kami juga ber-narsis ria sendiri. Begitu Rani memulai perjalanan yang menjadi tanggung jawabnya, saya dan Evi beranjak menuju kendaraan untuk pulang ke rumah. Kami bertemu dengan sekumpulan orang, yang langsung menyapa Evi, “Mbak, itu si Om angkatan 70’. Hebat...” Rupanya sambil menunggu tadi, Evi sempat berbincang dengan mereka, angkatan ‘88.

Dalam perjalanan pulang, untuk menghilangkan kepo aku bertanya, “Kenapa tadi setiap 2 km kendaraan berhenti?” Sambil tertawa Evi menjawab, “Terus terang Mama enggak yakin Papa akan bisa sampai ke finis.” Evi tidak tahu bahwa setiap alumni ITB ‘70 memiliki moto, “Veni, Vidi, Vici” alias “Kami Datang, Kami Melihat, Kami Senang.”

Ketika aku tadi berhasil menyelesaikan etape-ku, Evi mengirim japri kepada kedua anakku. Ketika masih di kendaraan, panggilan face time berdering di gadget-ku. Katharina berkata, “Good job, Pasya. I’m proud of you.” Sedangkan adiknya, Alexander, mengucapkan, “Good job, Pasya.” Selain itu, masuk pesan dari menantu di tempat kerjanya, “Congrats, Pasya, on the finishing the run. We all are really proud of you and your achievement.” Ucapan dan pesan ini merupakan hal yang sangat berarti buatku, bahwa di usia senja ini masih dapat membuat mereka semua bangga dengan Pasya-nya.

Terima kasih Allah, Engkau telah membuat kenangan terindah bagiku.


Halaman:  12345678910
Share
Comments