La88ler Bionicle

BTS yang In Harmonia Progressio banget

Kamis, 8 April 2021
Kamis, 8 April 2021
la88ler3_2.jpeg

 

Sudah banyak cerita inspiratif Ultra Marathon ITB yang muncul. Seperti keberhasilan mereka yang bergejolak semangat setelah mengalami sebuah “tamparan kehidupan”, semisal sakit jantung atau stroke. Lalu bangkit. Dan melalui UM ITB bisa membuktikan bahwa dia kembali. Sembuh. Malah menjadi bugar. Dan memiliki habit baru: berolahraga. UM menjadi sebuah turning point. Sangat keren. Inspiratif.

Tapi, itu tidak berarti tidak ada cerita bagi mereka yang termasuk kaum biasa saja. Mereka yang tidak sakit. Saya sebut saja kaum yang hidupnya “lempeng” (lurus). Mereka yang kehidupannya datar-datar saja, tidak banyak riak gelombang. Kerja lancar, karier normal, tidak terlalu ambisius, tidak terlalu seadanya. Tanpa masalah kesehatan yang besar yang bisa membuat sebuah peristiwa menjadi titik balik atau membuat pencerahan secara spiritual rohani. Mereka-mereka yang palingan seringnya sakit pusing, maag atau malas bergerak dengan ciri amat sangat umum: buncit. (Hei, buncit itu tanda bahagia, bukan?)

Ya, bagi kaum biasa-biasa seperti itu, kegiatan keren berjulukan Ultra Marathon ITB seperti itu pun dianggap biasa-biasa saja.

Dan saya mungkin salah satunya.

Sebagai orang yang “biasa-biasa” itulah, maka saya tidak terlalu terbawa dengan keglamoran olahraga keren kekinian. Lari. Kala orang lain seumuran, dan bahkan yang lebih senior usianya, gencar dan bergairah berlari seperti anak muda lainnya, maka saya memilih tidak mengikuti arus utama itu. Kerennya disebut anti-mainstream. Sederhananya: pemalas J.

“Ngapain sih lari, nyapein diri”.

“Lah, malah jadi lomba keren-kerenan attire. Jersey. Sepatu. Topi. Sport watch. Kaca mata hitam”.

“Terus habis ngumpul ngobrol di kafe, gitu? Ogah ah”.

Itulah saya. Biasa banget. Mirip pengikut lagunya Vetty Vera: “yang sedang-sedang saja”.  (Milenial pasti gak tahu siapa dia).

Namun …….

Medali itu pun kini tergantung. Ber”tatah”kan logo biru gajah sila, dengan kujang keren berukir. Indah. Bertuliskan BNI ITB Ultra Marathon. Yang mau tidak mau dan harus membuat diri ini bahagia dan bangga. Wajar, amat sangat wajar ditempatkan pun berdampingan dengan medali wisuda ITB. Tahun 1993. Berarti beda usia medali itu 27 tahun. Karena, inilah Medali race lari pertama. P.E.R.T.A.M.A. dan (masih) satu-satunya.

Bahagia?

Iya lah. Sesuatu yang pertama kali itu pasti membahagiakan. Bukankah malam pertama juga ditunggu karena itu? Eaaaa.

Bangga?

Iya juga lah. Meski tanpa ada “drama” yang bisa dijual, tapi inilah pencapaian prestasi pribadi di tahun 2020: keberanian untuk mengakui bahwa saya bisa berlari. Dan itu tidak terlepas dari BTS.

Wow. Alumni ITB angkatan jadul jadi BTS Army? Bangtan Sonyeondan (방탄소년단)? Itu pasukan cowok penyanyi Korea yang cantik-cantik kayak porselen?

Heuheuy. Hush. Anak saya saja gak suka K-Pop, apalagi bapaknya. Palingan fans-nya Ebiet G Ade, Iwan Fals atau bahkan Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih. BTS di sini adalah “behind the scene”. Cerita di balik layar sebelum UM ITB 2020. Ngerti ora, Son?

Balik ke pertengahan bulan Oktober tahun itu, muncul sebuah tantangan di whatsapps grup jurusan angkatan. Challenge dari sebuah komunitas lari lintas jurusan. Angkatan 88. La88ler. Komunitas yang saya sendiri saat itu tidak tahu apa-apa dan siapa yang ada di dalamnya. Sekilas info yang didapat,  komunitas ini menjembatani peserta UM ITB tahun-tahun sebelumnya. Ultra Marathon beneran, dari Jakarta ke Bandung itu.

Challenge la88ler itu berupa tantangan berlari sepanjang minimum 100km selama dua bulan, November sampai Desember. Karenanya disebut La88ler End of Year Challenge. Tantangan ini tidak hanya dilakukan dengan berlari, tapi peserta bisa berjalan saja, berenang atau bersepeda. Tentunya jarak yang ditempuh masing-masing kegiatan memiliki faktor pengali tersendiri untuk konversi sehingga ekuivalen dengan kegiatan berlari.

Entah karena penasaran atau ingin mengisi waktu pandemi, akhirnya saya ikutan. Meskipun pernah lah berlari seadanya, saya tetap ikuti tantangan ini dari nol. Tidak membuat target muluk. Cukup lah lari tiga kilometer saja, tiga kali seminggu. Ditambah pemanasan dan pendinginan dengan berjalan kaki, bersamaan dengan pergi dan pulang, lumayan sekali lari bisa 5km. Dua bulan bisa lah 100km. Perkara pace, makhluk apa itu pace? Yang penting lari saja dulu lah. Lha wong pemula.

Jadilah saya mulai berlari. Ketika mulai mendapati enaknya berlari, saya coba bikin target sendiri. Berlari tiap hari. Itupun setelah mendapatkan sinyal positif dari rekan yang maratoner beneran: “boleh tiap hari, gak lebih dari 3km”. Jadilah saya berlari, berlari dan terus berlari. Mirip lah dengan Forest Gump.

Run forest. Run.

Karena bergabung dengan sebuah komunitas, otomatis saya diceburkan ke dalam grup whatsapps. Seperti grup-grup lainnya, di grup ini pun saya memutuskan menjadi member yang pasif. Bicara jika ada yang nyenggol. Lagian dari jumlah anggota segitu banyak, yang saya kenal cuman satu dua saja. Maklum, saat kuliah saya tuh nyaris tak terdengar. Tapi…. saya ini pangamat yang baik loh. Ternyata obrolan di grup itu seru sekali. Banyak sekali inspirasi. Topik-topik diskusinya juga sangat menarik. Meski traffic obrolannya cukup kencang, yang membuat malas “manjat” ketika tidak ditengok sejam, tapi pembicaraannya memberi banyak pengetahuan baru. Terutama bagi saya, pelari nyubi beneran. Nyubi yang beneran newbie. Karena saking seru dan guyubnya obrolan, bahkan istilah nyubi, pemula dan keong pun konotasinya di grup ini sudah berlawanan. Di sini saya belajar segala hal berkaitan dengan pelarian J. Teknik berlari. Istilah-istilah lari. Apa long run, slow run, slow jogging, interval run dan bahkan yang membingungkan adalah apa itu recovery run. Memulihkan diri dari capek berlari kok dengan berlari? Aneh-aneh saja. Lalu ada sharing rute lari, termasuk rute berbentuk kucing lagi pipis dan tentunya ….gajah. Lalu juga tentang seberapa sering harus berhenti istirahat dan seberapa kerap dan sebanyak apa harus minum. Tidak ketinggalan sharing menu-menu sehat, yang bagi saya pribadi mah tidak begitu menarik. Rasanya tuh sengsara banget makan dengan menu boring: alpukat, chia seed, buah tiga warna de el el. Maklum lah, saya mah termasuk golongan omnivora sejati, yang istilah Sundanya mah: sagala bres. Apapun masuk.

Diskusi yang bagi saya paling penting adalah tentang monitoring detak jantung saat berlari. Maklum, karena terus terang dengan berlari tiap hari, pace – cie tahu istilah ini sekarang – jadi lumayan meningkat. Ya dari kelas keong naik kelas menjadi kelas kelinci. Dan karena endorphine tinggi, terkadang saya kepengen terus berlari dengan lebih cepat meskipun nafas sudah ngahegak. Hah-heh-hoh. Dan saat itu saya belum memanfaatkan sport watch untuk memonitor heart rate. Padahal ternyata, monitoring HR itu penting bagi pelari seusia kita. Eh, seusia SAYA. Begitulah nasib lolita, lepas limapuluh tahun. Harus tahu diri. Daripada terlalu semangat, HR tidak termonitor, berujung di UGD. Kan tidak indah, itu.

Selain yang seserius monitoring Heart Rate, obrolan remeh temeh pun bermanfaat. Bahkan ada tutorial menalikan sepatu agar tidak mudah lepas. Pokoknya seru. Dan amat sangat seru buat anggota perempuan jika topik sudah menyentuh obrolan tentang …. Ariel.

Saat muncul pengumuman resmi pembukaan UM ITB 2020, mulailah terjadi penyadaran. Muncul kehebohan. Antusiasme terlihat banget muncul. Euphoria banget. Bisa jadi ini karena UM tahun ini ajang UM dilakukan secara virtual. Pandemi setahun ternyata memiliki hikmah positif. Dengan virtual, karena mengikuti protokol kesehatan, jadinya siapa saja bisa berlari di mana saja dan jam berapa saja. Peserta tidak perlu pergi jauh ke titik start untuk ambil estafet. Peserta tidak perlu berlari saat dapat giliran prime time full banyak yang moto meski bonus terik mentari, atau justru apes dapat giliran dini hari ketika sudah mah yang ngambil foto dikit, eh latar belakangnya juga kalo gak gelap, ya kabut. Untung jika gak ada pelari dunia maya yang ikutan photo bomb. Dan…. Ini juga yang menjadi alasan saya ikutan. Suwer, kalo UM beneran dengan estafet Jakarta Bandung gitu tuh tidak berminat sama sekali. Rasanya belum layak. Dan saya yakin, begitu juga para peserta yang lain.

Pengumuman itu diikuti rame-rame “nyombongin” profil picture dengan UM ITB 2020 ribbon / frame untuk dipasang di medsosnya. Lengkap dengan segala keunikan pose-nya masing-masing. Senarsis apapun. Lepas kok. Selepas komentar-komentar yang muncul, tapi tanpa menyakiti satu sama lain. Lalu, dua orang yang didapuk sebagai Captain komunitas La88ler Captain Evi dan Captain Irfandra, mulai mengkoordinasikan peserta UM ITB 2020, seperti yang mereka lakukan di UM tahun-tahun sebelumnya. Lugunya, saya menduga mereka berdua itu memang berprofesi di penerbangan makanya disebut Kapten. Tapi seperti halnya kapten di suatu penerbangan, kesan yang sama muncul. Tangkas dan Profesional. Daftar isian dilemparkan sampai tenggat tertentu, termasuk kategori yang mau diikuti: 10K, 25K, 50K. Tim 10, Tim 4 dan Tim 2 dibentuk. Tim terdiri dari multi jurusan. Tidak hanya dari satu jurusan saja. Padahal sebenarnya itu dimungkinkan loh karena peserta per jurusan sudah cukup memenuhi jumlah tim. Awalnya saya pikir saya bisa bersama 9 orang teman satu jurusan yang ikut mendaftar. Tapi dengan kebijakan dan ketegasan, Captains memutuskan untuk mencampurkan member dari berbagai jurusan yang berada di dalam komunits la88ler itu.

HARMONIA.

Harmoni. Itu yang muncul ketika tiap kelompok ditunjuk Kapten kelompok. Tanpa gejolak. Saya yakin bahwa kapten kelompok yang dipilih adalah mereka yang setidaknya pernah punya pengalaman mengikuti UM sebelumnya. Jadinya, semua penuh dukungan. Lah, seusia gini masih mempermasalahkan penunjukkan ketua kelompok mah kelewatan. Lalu mulailah grup kecil dari anggota yang saling tidak kenal menjadi lebih mengenal satu sama lain. Ngobrol bercanda. Dan berdiskusi. Termasuk “debat” mengenai nama kelompok. Lucu-lucu naman yang diusulkan. Tim RunCak (dari kata Rancak Bana). Tim Anti Mager. TIm ROMLAH BOO – ROMbongan LAri susaH tapi happy BOO yang diusulkan yang merasa pace-nya di 11-12. Saya sendiri mengusulkan  Tim RUNTANG: meski pace 11-12, tetap RUN demi tanTANGan, pulang disambut makanan di rantang. Dan yang dipilih oleh tim adalah nama dari permainan anak-anak: lego. Ada dua yang diusulkan, Tim Bionicle dan Tim Duplo. Akhirnya disepakati dipakai nama Tim Bionicle, meski terus terang sampai terpilih nama itu saya tidak tahu Bionicle itu seperti apa. Lah mainan anak cewek saya masih congklak.

Keseruan kelompok berlanjut. Pak Kapitan berinisiatif membuat group picture. Beliau membuat format sendiri yang keren. Tinggal anggota mengirimkan fotonya masing-masing untuk dikolase. Agar kompak, diusulkanlah untuk mengirimkan foto dengan kaos jersey la88ler. Tapi karena tidak semuanya memiliki kaos tersebut, akhirnya dibebaskan saja dengan warna yang setidaknya mirip biar manis. Eaaa. Dan beneran saja, yang dikirim dengan berbagai warna. Manisnya gak muncul. Lalu iseng saya improvisasi saja foto itu, diedit biar ada nada warna yang sama. Eh bisa. Jadilah saat itu saya menjadi editor. Keren banget dibilang hebat karena bisa mengedit dengan cepat. Padahal sih kan pake aplikasi di hape yang tinggal geserin effect, color replace.

Rasa kebersamaan beneran muncul ketika Captain share foto grup ke Grup besar dan kelompok lain meminta bantuan. Sang Kapten yang baik hati lalu membuatkannya dengan senang hati. Juga ketika kelompok Sang Kapten tidak bisa melakukan pembayaran pendaftaran karena tidak memiliki rekening di bank sponsor resmi, anggota lain dengan senang hati membantunya. Pokoknya guyub sekali.

Menuju D-Day, kita anggota kelompok janjian untuk berlari bersama-sama kalau bisa. Tentunya disesuaikan dengan jarak kedekatan antara satu sama lain. Kita saling semangati, termasuk bagi anggota yang kesulitan untuk berlari di lingkungan pekerjaannya yang sangat ketat dengan protokol kesehatan. Tidak adanya batasan COT ternyata sangat membantu sehingga semua anggota bisa ikutan.

D-Day. Seru. Tiga orang yang di Bandung ternyata bisa berlari bersamaan.  Dua orang di sekitaran BSD bisa ketemuan. Yang lain karena lokasi, berlari sendirian. Dan satu orang berlari pada siang hari karena kesibukan keluarga di pagi hari. Inilah menariknya UM tahun ini. Bahkan kita bisa berlari di waktu yang cocok buat pelari sendiri. Dengan begitu, kerasa banget partisipasi, keseruan, kehebohan dan ….kekeluargaan. Harmoni. Silaturahmi.

PROGRESSIO

Hari itu demikian seru. Alhamdulillah saya sendiri – yang tahun 1993 lulus dengan IP dua koma alhamdulillah - ternyata di tahun 2020 lulus berlari 10K dengan pace 7 koma alhamdulillah. Catatan tersendiri. Janganlah dibandingkan dengan teman-teman yang lain, yang memang adalah pelari. Masa pelari kemaren sore dibandingkan dengan pelari kemaren dulu. Seperti membandingkan sarjana nyaris DO dengan sarjana nyaris Summa Cum Laude.

Ada kepuasan sendiri ketika berlari. Ada kepuasan sendiri ketika tanpa sengaja menyapa bapak-bapak yang ditebak juga ikutan UM ITB yang ternyata angkatan empat tahun di atas saya. Pake acara foto-foto lagi. Ada kepuasan juga ketika mau memutuskan pulang gagal bertemu dengan rekan setim yang sudah janjian, ternyata sebenarnya beberapa kali berpapasan. Maklum, belum pernah ketemu. Dan ada kepuasan melihat seliweran foto-foto dan laporan Strava teman-teman di grup besar. Heboh. Seru. Dan solid bin kompak. Termasuk dalam memberi support dua tim T2. Gile bener, 50 km. Mereka masih berlari, saya mungkin lagi berendam, relaksasi kaki. Senang juga membaca testimoni-testimoni mereka-mereka – utamanya para ibu – yang pertama kali ikutan race. Lebih tepatnya pertama kali berlari atau berjalan kaki jauh. Capek. Gak kuat. Tapi kok ya pada semangat. Dan selesai juga 10 km.

Ah serunya.

Lalu, sudah. Begitu saja? Berlalu setelah eforianya ditumpahin di media sosial?

Oh tidak Ferguso. Meski Hayati lelah, tetapi la88ler End of Year Challenge masih tetap berjalan toh. Setelah jeda yang tergantung kemagerannya, tantangan itu terus berlanjut dan terus dilakukan. Rasanya terlihat, baik dari obrolan di grup maupun di Strava, semangat-semangat yang terus terjaga untuk berlari. Leaderboard weekly jadi seru untuk dipantengin. Rasanya ada tantangan seberapa jauh dan seberapa cepat kita bisa berlari. Dengan monitoring heart rate, seberapa cepat bukanlah menjadi tujuan lagi. Tapi seberapa konsisten saya bisa berlari. Atau lebih tepatnya seberapa konsisten saya bergerak. Seberapa konsisten saya berolahraga dan menerapkan hidup sehat.

Dan ternyata itu yang terjadi. Saya memiliki habit baru. Berlari. Tidak tiap hari. Cukup tiga kali seminggu. Minimal tiga sampai lima kilometer. Saya juga kembali memiliki gairah atas tantangan. Sepuluh km bisa, kenapa tidak coba half marathon. Habit itu sangat terasa. Seperti ada yang hilang jika seminggu tidak berlari tuh. Kejar-kejaran di leaderboard Strava menjadi seru-seruan. Tapi yang paling terasa: badan bugar.

…..dan rasanya itu yang dirasakan banyak anggota komunias la88ler.

Progressio. Selalu beproses ke arah lebih baik. Selalu maju.

Itulah yang saya maksud: dalam Behind the Scene UM ITB 2020 lah kita bisa melihat moral In Harmonia Progressio.

12 Maret 2020.

Empat bulan selepas hajatan UM ITB 2020. Grup whatsapps Tim Bionicle masih tetap ada. Silaturahim tetap dijaga. Bahagia melihat dua anggota akhirnya bertemu ketika bersama-sama berada di Madura. Saya sendiri bisa berkunjung ke anggota yang rumahnya dekat dengan rumah orangtua di Bandung, dan bahkan berlari bersama. Dan kita tetap saling mendukung, saling berbagi. Menjaga silaturahim.

 

Share
Comments